Skip to content
Khazanah

New Policy: Cegah Kekerasan di Pesantren, Ini Langkah Ponpes Al-Hamidiyah Depok

Susan Johnson - kabarteras.com 3 mins read

Ponpes Al-Hamidiyah Depok Luncurkan New Policy untuk Cegah Kekerasan di Pesantren Komitmen Membangun Lingkungan Aman New Policy - Sebagai bagian dari upaya

New Policy: Cegah Kekerasan di Pesantren, Ini Langkah Ponpes Al-Hamidiyah Depok

Ponpes Al-Hamidiyah Depok Luncurkan New Policy untuk Cegah Kekerasan di Pesantren

Komitmen Membangun Lingkungan Aman

New Policy – Sebagai bagian dari upaya menegakkan New Policy untuk mencegah kekerasan di pesantren, Ponpes Al-Hamidiyah Depok menegaskan komitmen mereka dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan berorientasi pada kebahagiaan peserta didik. Kebijakan ini telah diimplementasikan sejak 2023, sebelum Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak dicanangkan secara resmi oleh pemerintah. Dengan New Policy ini, pesantren mengambil peran aktif dalam memperkuat sistem perlindungan terhadap anak-anak dan remaja.

Program Penguatan Struktur Kebijakan

Langkah yang diambil Ponpes Al-Hamidiyah Depok menjadi lebih terlihat dalam acara peluncuran Gerakan Nasional Ruang Aman yang digelar pada Ahad, 12 Juli 2026. Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk tokoh pendidikan, para santri, serta pengurus yayasan. New Policy yang diterapkan pesantren ini dianggap sebagai contoh nyata dalam penerapan kebijakan anti-kekerasan, dengan memadukan prinsip Islam dan pendekatan modern.

Peran Kepemimpinan dan Implementasi

Kepala Pengasuh Ponpes Al-Hamidiyah, Prof Oman Faturrahman, menjelaskan bahwa New Policy bukan hanya kebijakan yang ditetapkan secara formal, tetapi juga menjadi bagian dari budaya institusi. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini memperkuat komitmen pesantren untuk melindungi hak-hak peserta didik, baik secara fisik maupun psikologis. “New Policy ini sejalan dengan visi pendidikan kami yang menekankan keadilan, kesetaraan, dan pemenuhan kebutuhan anak-anak,” kata Prof Oman dalam pidatonya.

“Dengan New Policy, kami berharap pesantren menjadi tempat yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mencegah tindakan kekerasan yang bisa merusak potensi generasi muda. Kebijakan ini adalah langkah nyata untuk membangun kesejahteraan, khususnya bagi santri perempuan yang rentan terhadap berbagai bentuk diskriminasi,” ujarnya.

Regulasi dan Pedoman Terperinci

Sejak 2023, Yayasan Pesantren Al-Hamidiyah telah menerbitkan Peraturan Direktur Utama tentang Pedoman Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan yayasan. Dokumen ini berlaku untuk seluruh warga pesantren, termasuk santri, guru, dan pengurus. New Policy ini melibatkan berbagai aspek, seperti pengawasan rutin, pelatihan pengajar tentang komunikasi sehat, dan mekanisme laporan kekerasan yang terbuka.

Prof Oman menjelaskan bahwa tanda tangan peraturan ini dilakukan oleh Direktur Utama Yayasan, yang menunjukkan komitmen kelembagaan terhadap pencegahan kekerasan. “New Policy ini menjadi jaminan bahwa setiap tindakan kekerasan akan segera ditangani secara tegas, baik oleh pihak pengajar maupun pengurus pesantren,” lanjutnya.

Proteksi untuk Semua Bentuk Kekerasan

New Policy di Ponpes Al-Hamidiyah Depok secara tegas melarang semua bentuk kekerasan, mulai dari kekerasan verbal, fisik, seksual, hingga digital. Kebijakan ini juga memperkuat penegakan hukum dalam lingkungan pesantren dengan adanya tim khusus yang bertugas meninjau laporan pelanggaran. “Kami tidak hanya mencegah kekerasan, tetapi juga memastikan setiap peserta didik merasa aman dalam setiap aspek kehidupan di pesantren,” tegas Prof Oman.

Pelibatan Komunitas dan Keterlibatan Media Sosial

Upaya menciptakan lingkungan yang nyaman di pesantren juga didukung oleh partisipasi aktif masyarakat sekitar. Selain itu, media sosial menjadi alat penting dalam menyebarkan New Policy ini. Melalui platform Instagram, Republika Online membagikan postingan terkait peluncuran gerakan nasional yang menyoroti peran Ponpes Al-Hamidiyah Depok. “New Policy ini menjadi inspirasi bagi pesantren lain untuk memperkuat standar pencegahan kekerasan, bukan hanya secara internal tetapi juga melalui komunikasi yang transparan,” tambah Prof Oman.

Pengaruh pada Perubahan Budaya Pesantren

Kebijakan baru ini berdampak signifikan pada perubahan pola komunikasi dan interaksi di pesantren. Dengan adopsi New Policy, para santri diberikan ruang untuk berbicara dan melaporkan masalah yang mereka alami. Selain itu, pengajar juga diwajibkan mengikuti pelatihan tentang cara menangani konflik secara empatik dan tidak terburu-buru. “New Policy ini mengubah cara kami mengelola pesantren. Sekarang, setiap tindakan kekerasan dianggap sebagai pelanggaran yang serius,” kata Prof Oman.

Dengan penerapan New Policy, Ponpes Al-Hamidiyah Depok menunjukkan komitmen untuk menjadi institusi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pengajaran ilmu agama, tetapi juga pada pembentukan karakter dan keberlanjutan kehidupan beragama yang sehat. Langkah ini diharapkan menjadi referensi bagi pesantren lain dalam membangun lingkungan belajar yang aman, khususnya bagi generasi muda yang menjadi masa depan bangsa.

Join the discussion