Ternyata Kakek Nabi yang Pertama Memperkenalkan Nama Hari Jumat, Begini Kisahnya
Hari Jumat memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam sebagai sayyidul ayyam atau penghulu segala hari. Umat Muslim sejak zaman dahulu telah mengenal
Kakek Nabi Pertama Memperkenalkan Nama Hari Jumat
Kabarteras.com – Hari Jumat memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam sebagai sayyidul ayyam atau penghulu segala hari. Umat Muslim sejak zaman dahulu telah mengenal keistimewaan hari ini, sehingga banyak anjuran untuk memperbanyak ibadah, doa, serta membaca shalawat baik pada malam maupun siang hari Jumat. Keistimewaan ini bukan hanya bersifat spiritual, tetapi juga memiliki akar sejarah yang panjang sejak masa pra-Islam.
Menariknya, nama “Jumat” sebenarnya sudah ada jauh sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu sebagai nabi. Sosok yang pertama kali memperkenalkan penyebutan hari ini adalah Ka’ab bin Lu’ay, sang kakek Nabi Muhammad SAW dari pihak ayah. Peran Ka’ab bin Lu’ay dalam sejarah Islam sangat signifikan, tidak hanya sebagai pendahulu Nabi, tetapi juga sebagai tokoh yang meletakkan dasar-dasar tradisi keagamaan bagi masyarakat Arab saat itu.
Perubahan Nama dari Al-Arubah Menjadi Jumu’ah
Berdasarkan penjelasan Muchlis M Hanafi dalam bukunya “Pengantin Ramadhan”, masyarakat Arab pra-Islam menyebut hari Jumat dengan sebutan al-arubah. Ka’ab bin Lu’ay kemudian mengubahnya menjadi jumu’ah. Muchlis, yang merupakan lulusan Universitas Al-Azhar Mesir, menguraikan bahwa setiap hari tersebut Ka’ab mengumpulkan kaum Quraisy di kediamannya. Pertemuan ini menjadi tradisi yang sangat penting dalam masyarakat Arab saat itu.
Pertemuan rutin ini menjadi momen penting bagi masyarakat Mekkah. Ka’ab mengingatkan para hadirin tentang kedatangan seorang nabi terakhir, yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Menurut Muchlis, kata “jumu’ah” berasal dari makna berkumpul atau ijtima’. Nama ini menjadi semakin relevan setelah Islam datang, sebab kaum Muslimin mulai berkumpul untuk melaksanakan shalat Jumat dengan tata cara yang berbeda dari sholat lima waktu lainnya. Tradisi ini terus bertahan hingga kini sebagai salah satu rukun Islam yang paling penting.
Peran Ka’ab bin Lu’ay dalam Sejarah Islam
Ka’ab bin Lu’ay memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah Islam. Beliau dikenal sebagai tokoh yang membawa batu hitam (Hajar Aswad) dari Yaman ke Mekkah dan menempatkannya di Ka’bah. Selain itu, Ka’ab juga dikenal sebagai orang yang pertama kali mengenakan pakaian ihram saat melakukan haji. Peran-peran ini menunjukkan bahwa Ka’ab bin Lu’ay bukan hanya sekadar kakek Nabi, tetapi juga tokoh yang meletakkan dasar-dasar ibadah haji yang kita kenal hingga sekarang.
Sebagai kakek Nabi yang pertama, Ka’ab bin Lu’ay juga dikenal sebagai tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat Arab. Beliau dikenal dengan sifatnya yang bijaksana dan keahliannya dalam memimpin masyarakat. Tradisi pertemuan hari Jumat yang beliau ciptakan menjadi salah satu warisan berharga yang terus dilestarikan oleh umat Muslim hingga saat ini. Warisan ini menunjukkan betapa pentingnya peran Ka’ab dalam membentuk tradisi keagamaan masyarakat Islam.
Keutamaan dan Anjuran Ibadah di Hari Jumat
Dalam Islam, hari Jumat memiliki banyak keutamaan yang disebutkan dalam berbagai hadis. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai hari yang paling mulia di sisi Allah SWT. Beliau bersabda:
“Sungguh hari Jumat adalah tuannya hari-hari dan yang paling agung di sisi Allah.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Keistimewaan tersebut menjadi alasan mengapa umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah, termasuk membaca doa dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Banyak umat Muslim yang memanfaatkan hari Jumat untuk melakukan berbagai amal shaleh, seperti membaca Al-Quran, bersedekah, dan memperbanyak dzikir.
Malam Jumat maupun hari Jumat merupakan waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak shalawat. Rasulullah SAW bersabda:
“Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari dan malam Jumat. Barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, maka Allah membalasnya sepuluh kali.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Baihaqi. Dengan demikian, hari Jumat bukan hanya sekadar hari dalam seminggu, melainkan momen spiritual yang penuh berkah bagi umat Muslim. Melalui tradisi yang telah dimulai oleh Ka’ab bin Lu’ay, umat Muslim dapat merasakan keistimewaan hari Jumat yang telah ada sejak zaman pra-Islam hingga kini.
