Skip to content
Kolom

Ketika Pendidikan Kehilangan Akar

Matthew Miller - kabarteras.com 3 mins read

Yana Karyana, yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Persaudaraan dan Kemitraan Pesantren (PK-Tren) Indonesia sekaligus Wakil Ketua PCNU Kota

Ketika Pendidikan Kehilangan Akar

Mendidik Tanpa Akar: Ketika Suci Dijadikan Hiburan

Kabarteras.com – Yana Karyana, yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Persaudaraan dan Kemitraan Pesantren (PK-Tren) Indonesia sekaligus Wakil Ketua PCNU Kota Tangerang, menyoroti sebuah fenomena yang menurutnya jauh lebih serius daripada sekadar kontroversi viral.

Cermin dari Sesuatu yang Lebih Besar

Beberapa waktu lalu, sebuah rekaman video menyebar luas di platform digital. Kontennya menampilkan sebuah festival musik di ibu kota, di mana penyelenggara mengemas tantangan melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an berpadanan dengan pembagian minuman beralkohol secara gratis. Seorang pengunjung diminta membacakan satu surah sebagai syarat memperoleh minuman tersebut.

Ketika menyaksikan tayangan itu, reaksi pertama yang muncul bukan amarah. Yang terasa justru kegelisahan mendalam: bagaimana kita bisa sampai pada posisi di mana kitab suci dan sesuatu yang diharamkan dalam ajaran Islam dipertemukan dalam satu kemasan promosi semata-mata demi menarik perhatian penonton?

Setelah gelombang kritik mereda, pertanyaan yang sesungguhnya perlu diajukan bukan lagi soal siapa yang harus disalahkan. Yang lebih mendesak adalah memahami apa yang sedang terjadi pada tatanan nilai kita secara keseluruhan.

Generasi Tidak Tumbuh di Ruang Kosong

Menyalahkan anak muda atas pelarutan nilai adalah jalan pintas yang terlalu mudah. Mereka tidak lahir dalam kekosongan. Mereka dibentuk oleh lingkungan yang kita bangun bersama — oleh apa yang kita tontonkan, oleh cara kita berbicara, dan oleh perlakuan masyarakat terhadap keyakinan yang dipegangnya.

Socrates sejak zaman dahulu menekankan urgensi manusia untuk memeriksa dirinya sendiri.

Dengan semangat itulah, pertanyaan yang tepat bukan sekadar “siapa yang salah,” melainkan “apa yang telah kita lakukan hingga rasa hormat bisa terkikis sedemikian ringan?”

Pengetahuan Tanpa Kebijaksanaan

Pendidikan tidak berhenti di gerbang sekolah. Anak-anak menyerap pelajaran dari keluarga, dari ruang digital, dari media, bahkan dari cara pasar mengejar keuntungan. Mereka belajar bukan hanya dari buku teks dan guru, tetapi dari setiap pemandangan yang mereka saksikan sehari-hari.

Di sinilah bahaya sesungguhnya mengintai: lahirnya generasi yang mengalami jarak lebar antara pengetahuan dan kebijaksanaan. Kecerdasan dan penguasaan teknologi melonjak pesat, sementara kepekaan moral tidak selalu tumbuh sebanding. Seseorang bisa sangat cerdas namun tumpul terhadap sesama. Ia mampu menguasai teknologi tanpa mempertimbangkan dampak tindakannya. Ia menikmati kebebasan luas tetapi kehilangan kapasitas untuk menghormati orang lain.

Permasalahannya bukan selalu ketidaktahuan. Sering kali, masalah muncul ketika seseorang memiliki kemampuan besar tetapi tidak lagi bertanya apakah kemampuan itu digunakan secara benar, pantas, dan membawa kebaikan bagi lingkungannya.

Ilmu yang Kehilangan Arah

Aristoteles sejak lama mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penambahan pengetahuan, tetapi juga pembentukan kebajikan.

Mengetahui apa yang baik tidak otomatis menjadikan seseorang baik. Kebaikan harus dilatih, dibiasakan, dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Ketika pendidikan kehilangan akarnya — ketika simbol dipisahkan dari nilai yang dikandungnya, ketika pengetahuan terputus dari kebijaksanaan — maka yang tersisa hanyalah kecerdasan tanpa kompas. Dan di situlah akar pendidikan benar-benar tercabut.

Frequently Asked Questions

What is Ketika Pendidikan Kehilangan Akar?

Ketika Pendidikan Kehilangan Akar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ketika Pendidikan Kehilangan Akar matter?

Ketika Pendidikan Kehilangan Akar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Join the discussion