Skip to content
Kolom

Modern, Jiwa yang Bergerak

Matthew Miller - kabarteras.com 3 mins read

Oleh: Nur Hadi Ihsan, Dosen Universitas Darussalam Gontor

Modern, Jiwa yang Bergerak

Modern: Jiwa yang Bergerak

Kabarteras.com – Oleh: Nur Hadi Ihsan, Dosen Universitas Darussalam Gontor

“Modern, berarti menjaman; menjaman berarti tak diam, tetap mengawaskan kehendak zaman, tetap memperhatikan kehendak masa. Modern, adalah cara, daya upaya untuk melaksanakan lekas berhasilnya sesuatu rancangan, untuk memajukan sesuatu idaman dengan mudah dan gampang, singkat, lekas berubah, memuaskan. Modern berarti aktif, bukan pasif yang tak ambil pusing kiri dan kanan, tak mengindahkan panggilan zaman; dan berarti selalu maju ke muka selangkah demi selangkah.”

—Diktat Pekan Perkenalan Pondok Modern Darussalam Gontor, hlm. 109.

Sebuah Nama yang Lahir dari Kekaguman

Sebutan “Modern” yang melekat pada nama Pondok Modern Darussalam Gontor tidak pernah dirancang sebagai label institusional biasa. Ia justru lahir dari sebuah peristiwa tak terduga: kunjungan seorang pendeta pada masa-masa awal berdirinya lembaga tersebut. Sang pendeta menyaksikan pemandangan yang asing bagi zamannya—santri mengenakan dasi dan jas, menjalani kehidupan penuh disiplin, menguasai bahasa asing, serta aktif berkecimpung dalam olahraga, kesenian, keterampilan, kepanduan, organisasi pelajar, dan latihan pidato. Seluruh denyut kehidupan Pondok tampak dinamis dan mendidik. Dari kekaguman itulah, sebutan “Modern” pertama kali diucapkan.

Yang penting dicatat: para pendiri Pondok tidak menerima sebutan itu sebagai pujian permukaan semata. Mereka segera mengisi kata tersebut dengan muatan filosofis yang jauh lebih dalam. Modern, dalam pengertian mereka, bukan soal gaya berpakaian atau sekadar mengikuti tren pembaruan. Ia adalah jiwa yang senantiasa bergerak—belajar, memperbaiki diri, dan mengabdi tanpa henti. Dari titik itulah sebuah kata berubah menjadi falsafah, lalu menjelma budaya hidup yang menggerakkan seluruh sistem pendidikan Gontor.

Membaca Zaman Tanpa Larut Di dalamnya

Diktat Pekan Perkenalan menegaskan bahwa modern berarti “menjaman.” Kata itu tidak menyiratkan larut dalam arus perubahan. Yang dimaksud adalah kepekaan untuk membaca zaman, memahami keresahannya, lalu menjawabnya dengan ilmu, hikmah, dan amal—bukan tunduk padanya. Modern adalah daya upaya untuk mewujudkan rancangan dengan cepat dan memuaskan, sekaligus sikap aktif yang menolak kepasifan.

Kerangka intelektual yang menopang sikap ini merujuk pada dua pemikir besar. Muhammad Iqbal memandang kehidupan sebagai gerak yang terus menyempurnakan diri. Ibnu Khaldun mengingatkan bahwa kemajuan hanya bertahan bila memiliki ruh yang menjaga arah perjalanannya. Gontor memadukan keduanya: modernitas di sini tidak dibangun di atas kekaguman buta terhadap perubahan, melainkan di atas keyakinan bahwa setiap perubahan harus berpijak pada iman, adab, dan cita-cita membangun peradaban Islam.

Gerak sebagai Mujahadah

Dalam perspektif tasawuf, gerak yang dimaksud bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah mujahadah—perjuangan tanpa henti melawan kelemahan diri. Gerak itu harus dipandu oleh keikhlasan agar tidak berubah menjadi ambisi duniawi. Sebaliknya, keikhlasan harus diwujudkan dalam amal nyata agar tidak menjadi alasan untuk berdiam diri. Gontor menempa pribadi yang bekerja keras tanpa kehilangan ketulusan, serta mengabdi tanpa mengharap balasan.

Kalimat “Modern berarti aktif, bukan pasif” dalam Diktat mengajarkan bahwa hidup adalah gerak, ikhtiar, dan tanggung jawab. Insan Gontor tidak menunggu perubahan datang dari luar; ia mempersiapkan diri menjadi pelaku perubahan yang membawa manfaat. Aktif di sini bukan sekadar kesibukan, melainkan bergerak dengan tujuan yang benar dan cara yang benar.

Falsafah yang Tak Pernah Selesai

“Memelihara nilai-nilai, dan terus melakukan perubahan menuju kesempurnaan.”

Inilah inti modernitas Gontor dalam rumusan paling ringkas. Nilai-nilai Islam tetap menjadi fondasi yang kokoh dan tak tergoyahkan. Sementara itu, cara mewujudkannya harus terus disempurnakan dari waktu ke waktu. Nilai menjadi akar yang menjaga identitas; perubahan menjadi ikhtiar yang menghidupkan; dan al-kamal menjadi cakrawala yang selalu dituju—tak pernah selesai dikejar, sebab justru di situlah letak geraknya yang abadi.

Frequently Asked Questions

What is Modern Jiwa yang Bergerak?

Modern Jiwa yang Bergerak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Modern Jiwa yang Bergerak matter?

Modern Jiwa yang Bergerak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Join the discussion