Muallim Radjiun – Ulama Betawi yang Jago Sepak Bola
g Jago Sepak Bola Muallim Radjiun, ulama Betawi yang dikenal oleh sejumlah penggemar sepak bola, tidak hanya berkiprah dalam bidang keagamaan tetapi juga
Muallim Radjiun – Ulama Betawi yang Jago Sepak Bola
Muallim Radjiun, ulama Betawi yang dikenal oleh sejumlah penggemar sepak bola, tidak hanya berkiprah dalam bidang keagamaan tetapi juga menunjukkan keahlian dalam olahraga sepak bola. Sebagai tokoh agama yang memiliki kemampuan memimpin dalam berbagai kegiatan, Muallim Radjiun menjadi contoh nyata bagaimana seorang ulama dapat menggabungkan spiritualitas dengan hobi yang menyenangkan. Ia sering dikisahkan sebagai sosok inspiratif yang membuktikan bahwa pengetahuan agama tidak selalu terbatas pada ruang kelas, tetapi juga bisa mencolok dalam dunia olahraga.
Pelataran Sejarah dan Perjalanan Pribadi
Sepak bola telah menjadi bagian dari budaya populer sejak akhir abad ke-19, terutama di wilayah Arab Saudi yang memainkan peran penting dalam mengembangkan olahraga ini secara nasional. Pada masa itu, tim nasional Arab Saudi dikenal sebagai Najd atau Nejed, yang menjadi simbol kebanggaan di kalangan pecinta bola. Namun, di tengah riwayat sejarah tersebut, Muallim Radjiun muncul sebagai ulama Betawi yang secara tidak biasa memasukkan sepak bola ke dalam kehidupan bermasyarakat. Ia lahir di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, pada tahun 1930-an, dan dibesarkan dalam lingkungan yang mengutamakan pendidikan agama.
Karier Sepak Bola dan Pembinaan Pemuda
Perjalanan Muallim Radjiun dalam sepak bola dimulai saat Perang Dunia II menghambat jalur laut, sehingga mengurangi aliran dana dari Indonesia ke luar negeri. Untuk mengatasi kesulitan ekonomi, ia memutuskan untuk mengikuti kegiatan sepak bola di kesebelasan Najd. Tidak hanya sekadar bermain bola, Muallim Radjiun juga memanfaatkan kesempatan ini untuk berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang, terutama pemuda yang tergolong sibuk dengan pekerjaan sehari-hari. Sebagai ulama Betawi yang suka bermain bola, ia menjadi salah satu tokoh yang menggabungkan semangat agama dengan olahraga sebagai sarana pengembangan diri.
Dalam kesibukannya, Muallim Radjiun tidak pernah lupa menjalankan tugas keagamaan. Ia aktif dalam berbagai kegiatan seperti mengajar ilmu agama, mengisi majelis taklim, dan memberikan kajian tentang pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian orang menyebut bahwa permainan sepak bolanya memberikan pelajaran tentang kerja keras dan kerja sama, yang kemudian ia sampaikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pengaruh di Dunia Pendidikan dan Organisasi
Setelah kembali ke Indonesia, Muallim Radjiun menjadi anggota aktif dalam organisasi Jam`iyatul Qurro wal Huffazh. Institusi ini berperan besar dalam membentuk generasi qori dan hafidz al-Qur`an di wilayah Betawi. Dalam organisasi tersebut, ia berperan sebagai pendidik dan pengelola program-program keagamaan. Selain itu, Muallim Radjiun juga terlibat dalam kegiatan Majelis Syuro dan menjadi salah satu tokoh yang memimpin pertumbuhan organisasi NU di wilayah Jakarta Pusat.
Karena keahliannya dalam sepak bola, Muallim Radjiun sering diundang untuk memberikan ceramah atau tampil dalam acara yang menggabungkan kegiatan agama dengan olahraga. Ia menekankan bahwa sepak bola tidak hanya menyenangkan, tetapi juga bisa menjadi alat untuk menyebarkan nilai-nilai keagamaan. Seorang tokoh dari Bekasi, KH Noer Alie, pernah menyebut bahwa Muallim Radjiun adalah pahlawan yang tidak hanya berperan dalam dunia agama tetapi juga dalam membentuk mental pemuda melalui olahraga.
Pengembangan Pendidikan Agama dan Kebijakan
Peran Muallim Radjiun dalam dunia kebijakan keagamaan semakin terasa ketika ia menjabat sebagai Penasihat Ahli Bidang Agama di Menteri Utama Bidang Kesra RI. Pada masa itu, posisi ini dipegang oleh Dr KH Idham Cholid, yang mengakui keahlian Muallim Radjiun dalam mengelola program pendidikan agama. Dalam tugas ini, ia berusaha memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan kurikulum dan metode pengajaran untuk masyarakat Betawi.
Sejumlah rekan sejawat seperti KH Abdullah Syafi`i dan KH Thahir Rohili mempercayai Muallim Radjiun dalam membentuk visi organisasi. Dalam sebuah
“Sepak bola adalah medium untuk mengajarkan kesabaran, kejujuran, dan kebersamaan. Dengan bermain, kita belajar bahwa keberhasilan tidak selalu tergantung pada kecepatan, tetapi pada niat dan konsistensi.”
Muallim Radjiun menekankan bahwa olahraga dan agama saling melengkapi.
Kerja Sosial dan Jejak Langsung dalam Masyarakat
Dalam kehidupan sosialnya, Muallim Radjiun juga aktif dalam berbagai program komunitas. Ia sering mengadakan pertandingan sepak bola antar-warga Betawi sebagai sarana untuk memperkuat hubungan antar warga. Selain itu, ia juga berperan dalam pembinaan pemuda yang ingin menggabungkan hobi sepak bola dengan tugas keagamaan. Banyak orang mengatakan bahwa Muallim Radjiun adalah ulama Betawi pertama yang menggabungkan dua dunia ini secara efektif.
