Skip to content
News

Key Strategy: Dua Bendungan di Aceh Diresmikan Prabowo, Mampu Irigasi 26.889 Hektare Lahan Pertanian

Emily Jackson - kabarteras.com 3 mins read

Prabowo Peresmikan Dua Bendungan di Aceh Sebagai Key Strategy Peningkatan Ketahanan Pangan Key Strategy - Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan dan

Key Strategy: Dua Bendungan di Aceh Diresmikan Prabowo, Mampu Irigasi 26.889 Hektare Lahan Pertanian

Prabowo Peresmikan Dua Bendungan di Aceh Sebagai Key Strategy Peningkatan Ketahanan Pangan

Key Strategy – Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan dan pengelolaan air, Presiden Prabowo Subianto secara resmi meresmikan dua bendungan strategis di Aceh, yaitu Bendungan Rukoh dan Keureuto. Proyek ini menjadi bagian dari Key Strategy pemerintah dalam mendorong pengembangan pertanian berkelanjutan dan pemanfaatan sumber daya air secara optimal. Kedua bendungan ini diperkirakan dapat memberikan manfaat irigasi hingga 26.889 hektare lahan pertanian, yang merupakan langkah penting dalam mendukung target swasembada pangan nasional.

Detail Pengembangan Bendungan Rukoh dan Keureuto

Bendungan Keureuto, yang berada di Kabupaten Aceh Utara, memiliki jaringan irigasi sepanjang 75,94 kilometer dan mampu menyimpan air sebanyak 215 juta meter kubik. Proyek ini selesai pada tahun 2022 setelah melalui pembangunan selama tujuh tahun. Sementara Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, dengan jaringan irigasi 7,39 kilometer dan kapasitas penampungan air 128 juta meter kubik, telah memperkuat infrastruktur air wilayah tersebut. Kedua bendungan ini tidak hanya berperan dalam pengairan pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari Key Strategy pemerintah daerah dalam meredistribusi air hujan dan mengurangi dampak banjir musiman.

Manfaat ekonomi dari proyek ini sangat signifikan. Bendungan Keureuto diperkirakan mampu menyuplai air baku 650 liter per detik, yang bisa digunakan untuk kebutuhan warga sekitar. Sementara Bendungan Rukoh memberikan pasokan air baku 900 liter per detik. Selain itu, kedua bendungan juga memiliki potensi energi tersembunyi. Keureuto bisa menghasilkan 6,34 MW dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan 179 MW dari PLTS terapung. Di Rukoh, pembangkit mikrohidro sebesar 1,22 MW serta solar 137 MW akan memberikan kontribusi tambahan bagi pemanfaatan energi terbarukan.

Strategi Terpadu untuk Masa Depan Aceh

Pemprov Aceh melalui Sekretaris Daerah M Nasir mengungkapkan bahwa peresmian bendungan ini sejalan dengan Key Strategy pengembangan infrastruktur daerah. Proyek yang dimulai pada 2015 untuk Keureuto dan 2018 untuk Rukoh, terbukti menjadi investasi jangka panjang yang menguntungkan. Dengan luas lahan pertanian yang dilayani mencapai 26.889 hektare, kedua bendungan ini diperkirakan akan meningkatkan produksi pertanian, mengurangi risiko gagal panen, dan mendorong ekonomi lokal.

Kebutuhan akan air di Aceh terus meningkat, terutama di tengah perubahan iklim yang memengaruhi pola curah hujan. M Nasir menjelaskan bahwa dengan jaringan irigasi yang diresmikan, warga Aceh dapat memanfaatkan air secara lebih efisien, baik untuk pertanian skala kecil maupun besar. “Key Strategy ini bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan air, yang menjadi salah satu faktor kunci dalam pertanian,” kata M Nasir dalam wawancara usai peresmian.

Bendungan Rukoh, yang melayani 12.194 hektare lahan pertanian, menjadi contoh bagaimana infrastruktur air bisa menjadi penggerak utama dalam peningkatan produksi pertanian. Sementara Keureuto, dengan manfaat irigasi 14.695 hektare, telah mengubah pola pengairan di wilayah sekitarnya. Dengan dana total Rp2,961 triliun untuk Keureuto dan Rp2,4 triliun untuk Rukoh, pemerintah pusat dan daerah telah melakukan kolaborasi yang mendorong Key Strategy keberlanjutan pertanian.

Peresmian bendungan ini juga berdampak pada pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan agraria. Dengan akses air yang lebih stabil, petani Aceh diharapkan bisa mengembangkan berbagai jenis tanaman, termasuk tanaman pangan, hortikultura, dan komoditas ekspor. Selain itu, pengelolaan air yang lebih baik akan mendukung Key Strategy pengurangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. M Nasir menegaskan bahwa kedua bendungan ini menjadi tulang punggung dalam memastikan Aceh tetap menjadi sentra pertanian nasional.

Dalam konteks Key Strategy nasional, peningkatan infrastruktur irigasi di Aceh dianggap sebagai bagian dari upaya mendorong pertanian berkelanjutan. Dengan luas area yang diirigasi mencapai 26.889 hektare, proyek ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga menjadi contoh terbaik untuk daerah lain di Indonesia. Manfaat tambahan dari bendungan ini, seperti pembangunan PLTA dan PLTS, menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengintegrasikan pengelolaan air, energi, dan pangan dalam satu sistem yang harmonis.

Join the discussion