Main Agenda: Saat AI Menjawab dalam Hitungan Detik, Pustakawan Dituntut Jadi Penjaga Kebenaran Informasi
nda: AI dan Perpustakaan dalam Era Digital Main Agenda – Di tengah penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin dominan dalam proses belajar-mengajar, peran
Main Agenda: AI dan Perpustakaan dalam Era Digital
Main Agenda – Di tengah penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin dominan dalam proses belajar-mengajar, peran pustakawan dihadapkan pada tantangan baru. Mahasiswa kini cenderung mengandalkan mesin pencari AI untuk mendapatkan jawaban dalam hitungan detik, tetapi kebutuhan akan informasi yang akurat dan dapat dipercaya justru meningkat. Main Agenda ini menyoroti pentingnya pustakawan sebagai penjaga kebenaran dalam era digital.
Perubahan Kebiasaan dan Tantangan Baru
Menurut Dr Syahril, Kepala UPT Perpustakaan UIN Fatmawati Sukarno (UIN FAS) Bengkulu, penggunaan AI mengubah cara mahasiswa mencari referensi. Di masa lalu, mereka harus mengunjungi perpustakaan, membandingkan sumber, dan memverifikasi data secara manual. Kini, kebiasaan itu digantikan dengan kebiasaan memasukkan pertanyaan langsung ke aplikasi AI. Main Agenda menekankan bahwa perpustakaan harus beradaptasi dengan perubahan ini sambil tetap menjaga integritas informasi.
Workshop Peningkatan Kompetensi Pustakawan Tahun 2026 yang diadakan pada Kamis (16/7/2026) menjadi platform untuk diskusi mendalam. Acara ini mengusung tema “Pelatihan Penulisan Ilmiah, Literasi Informasi, dan Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial secara Etis.” Peserta, yang terdiri dari perpustakaan di berbagai lembaga pendidikan di Bengkulu, menyatakan bahwa AI bukanlah pengganti pustakawan, melainkan alat bantu yang harus digunakan dengan bijak. Main Agenda ini juga menyoroti kesiapan pustakawan menghadapi teknologi yang terus berkembang.
Strategi Adaptasi Perpustakaan
Modernisasi perpustakaan tidak hanya terbatas pada pemanfaatan teknologi. Dalam Main Agenda ini, peserta sepakat bahwa perpustakaan perlu memperluas akses ke sumber informasi elektronik, termasuk membangun katalog digital yang terintegrasi dengan alat AI. Main Agenda juga menekankan pentingnya pelatihan terus-menerus bagi pustakawan untuk memahami cara kerja algoritma AI dan mengenali risiko ketidaktahuan dalam proses verifikasi.
Kelompok pustakawan menyadari bahwa AI dapat memberikan jawaban cepat, tetapi juga menimbulkan risiko penyebaran informasi yang salah jika tidak dikawal. Main Agenda ini menegaskan bahwa perpustakaan harus menjadi mitra utama dalam penggunaan AI untuk menghasilkan konten yang andal. Selain itu, perpustakaan perlu mengembangkan kebijakan etis dalam penggunaan teknologi, seperti memastikan sumber data yang digunakan AI bersifat kredibel.
Dalam Main Agenda, terdapat pula pembahasan tentang peran pustakawan sebagai pengajar literasi informasi. Mereka diharapkan mampu membimbing mahasiswa untuk tidak hanya mengandalkan AI tetapi juga memahami proses verifikasi manual. “AI adalah alat, tetapi kebenaran informasi tetap bergantung pada kecermatan pustakawan,” kata salah satu peserta, menggarisbawahi bahwa kemampuan kritis dan analitis tetap menjadi bekal utama di era digital.
Workshop ini juga menyoroti pentingnya kerja sama antara pustakawan, dosen, dan teknisi IT. Dengan memadukan keahlian masing-masing, perpustakaan dapat mengembangkan sistem yang lebih efektif dalam menyediakan informasi akurat. Main Agenda menegaskan bahwa transformasi ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang perubahan paradigma pendidikan dan pengetahuan.
