Penjaga Kos Ungkap Sikap Sehari-hari Pelaku Penganiayaan Perempuan di Bandung
Penjaga Kos Ungkap Sikap Sehari-hari Pelaku Pemerkosaan Perempuan di Bandung Penjaga Kos Ungkap Sikap Sehari hari - Kebiasaan sehari-hari pelaku pemerkosaan
Penjaga Kos Ungkap Sikap Sehari-hari Pelaku Pemerkosaan Perempuan di Bandung
Penjaga Kos Ungkap Sikap Sehari hari – Kebiasaan sehari-hari pelaku pemerkosaan perempuan di Bandung, TH, menjadi sorotan setelah diungkap oleh Resa Rohendi, penjaga kos di Gang Mesjid, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Dalam pengakuan Resa, TH sering menunjukkan sikap pemarah dan tidak sabar, terutama terhadap istrinya serta tetangga yang dianggap mengganggunya. Seorang korban, Yuvita Tri Rezeki, kehilangan penglihatannya setelah menjadi korban pemerkosaan oleh TH, yang menurut saksi, merupakan bagian dari kebiasaan kekerasan yang terus-menerus dilakukan pelaku.
Menurut Resa, kejadian tersebut terjadi setelah TH tinggal di kosnya selama dua bulan, sejak 9 Maret lalu. Ia menyebut bahwa pelaku sering mengancam tetangga dengan ucapan kasar dan memperlihatkan sikap dominan dalam berinteraksi. Salah satu contoh terjadi saat TH dalam pengaruh alkohol dan secara tiba-tiba mengajak Resa berkelahi, meski akhirnya meminta maaf setelah sadar. “Si ibu (penjaga kosan) tanya mau ke mana Pey, dijawab beli nasi (dengan nada tinggi),” katanya, ditemui di tempat kos pada Senin (22/6/2026).
Kebiasaan Keji yang Terus Berlanjut
Terlepas dari insiden berkelahi dengan tetangga, TH juga menunjukkan sifat kekerasan dalam kehidupan sehari-harinya. Menurut Resa, pelaku kerap merasa terhina jika tetangga melakukan hal-hal kecil yang dianggapnya mengganggu. Contohnya, saat seorang tetangga yang sudah tinggal selama enam tahun melewati pelaku tanpa mengucapkan permisi, TH langsung mengancam akan memukul siapa pun yang tidak menghormatinya. “Si Isan udah enam tahun di sini, gak permisi lewat pelaku langsung nge-WA ke saya, nanya siapa dan mengancam akan dipukul,” ujar dia.
Kebiasaan TH tidak hanya terbatas pada konflik dengan tetangga, tetapi juga mencakup hubungan dalam rumah tangganya. Ia sering memaksa istrinya melakukan tugas rumah tangga tanpa adanya komunikasi yang baik. Kebiasaan ini terungkap melalui pengakuan Resa, yang mengetahui peristiwa tersebut secara langsung. “Pemerkosaan itu bukan kejadian tunggal, tapi bagian dari sikap sehari-hari pelaku yang terus-menerus memperlihatkan dominasi dan kekerasan,” jelas Resa.
Faktor yang Memicu Kekerasan
Pengungkapan Resa juga menunjukkan bahwa TH memiliki faktor-faktor pemicu yang memperparah kekerasan sehari-harinya. Misalnya, kebiasaan pelaku untuk marah jika merasa tidak dihormati atau ditinggalkan oleh tetangga. Selain itu, penggunaan alkohol menjadi penyebab konflik yang sering terjadi. Saat dalam pengaruh alkohol, TH lebih rentan menunjukkan emosi negatif dan sering melibatkan orang lain dalam perkelahian. “Sikap sehari-hari pelaku jadi lebih ekstrem jika sedang bawa-bawa alkohol,” tambah Resa.
Menurut sumber lokal, kekerasan sehari-hari oleh TH tidak hanya berdampak pada korban Yuvita, tetapi juga menimbulkan ketakutan di lingkungan kos tersebut. Banyak tetangga yang merasa waspada karena takut menjadi korban kekerasan. “Pemerkosaan itu berawal dari sikap sehari-hari yang terkesan biasa, tapi seiring waktu menjadi lebih parah,” ungkap Resa. Hal ini menunjukkan pentingnya pemantauan dan kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda kekerasan sebelumnya.
Dalam kasus pemerkosaan Yuvita, kejadian tersebut terjadi dalam lingkungan yang dianggap aman. Resa menjelaskan bahwa TH selama tinggal di kosnya sering menunjukkan sikap tidak sabar dan sering memaksa korban melakukan tugas rumah tangga. Dalam kejadian terakhir, TH mengajak Yuvita ke lantai atas kos dan melakukan tindakan kekerasan hingga korban kebutaan. “Kebiasaan sehari-hari pelaku jadi seperti rutinitas, tapi berdampak besar pada korban,” kata Resa. Insiden ini menyoroti betapa seringnya kekerasan sehari-hari terjadi di Bandung dan bagaimana saksi seperti Resa menjadi sumber informasi penting.
Sebagai penjaga kos, Resa merasa bertanggung jawab untuk mengawasi perilaku TH. Ia juga menyebut bahwa pelaku sering membully tetangga yang dianggapnya tidak patuh. “Sikap sehari-hari pelaku membuat lingkungan kos jadi tidak nyaman, dan banyak orang takut mengungkapkan kebenaran,” tuturnya. Pengakuan Resa berharap bisa membuka mata masyarakat tentang bagaimana kekerasan sehari-hari bisa terjadi di lingkungan yang dianggap aman. Ia juga menyarankan adanya pendidikan kekerasan sejak dini untuk mencegah hal-hal serupa di masa depan.
