Untirta Kenalkan Teknologi Micro-Nanobubbles untuk Tingkatkan Produktivitas Tambak Udang
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) secara resmi memperkenalkan teknologi Micro-Nanobubbles sebagai solusi modern untuk meningkatkan produktivitas
Untirta Kenalkan Teknologi Micro Nanobubbles untuk Tambak Udang
Kabarteras.com – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) secara resmi memperkenalkan teknologi Micro-Nanobubbles sebagai solusi modern untuk meningkatkan produktivitas budidaya udang vaname. Inovasi ini hadir melalui Micro-Nanobubbles Generator (MNBG) yang dirancang khusus untuk memperbaiki kualitas perairan tambak. Program percontohan telah dilaksanakan di Desa Domas, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, dengan hasil yang menggembirakan. Data awal mencatat peningkatan kadar oksigen terlarut dari 3,8 miligram per liter menjadi 5,1 miligram per liter setelah penerapan teknologi ini secara konsisten.
Bagaimana Teknologi Micro-Nanobubbles Bekerja?
Menurut Prof. Teguh Kurniawan, pimpinan tim pelaksana, teknologi ini bekerja dengan menciptakan partikel udara berukuran mikro hingga nano. Perbedaan utama terletak pada durasi gelembung yang bertahan lebih lama di dalam air dibandingkan metode aerasi konvensional. Hal ini memungkinkan distribusi oksigen yang lebih merata ke seluruh area tambak. Kondisi ini sangat penting untuk mendukung kesehatan udang dan mempercepat proses pertumbuhan mereka secara optimal.
Hasil penerapan menunjukkan nilai oksigen terlarut (DO) meningkat dari 3,8 mg/L menjadi 5,1 mg/L, sehingga diharapkan mampu mendukung peningkatan kualitas air dan produktivitas budidaya udang vaname, ujar Teguh dalam keterangan tertulis, Jumat (25/7/2026).
Program Pendampingan dan Kerjasama
Inisiatif ini merupakan bagian dari program Hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun 2026 yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Untirta berkolaborasi erat dengan Gabungan Kelompok Tambak (Gapoktam) Domas Wanayasa dalam implementasi lapangan. Selain penyediaan alat aerasi canggih, tim akademisi juga menyelenggarakan pelatihan intensif mengenai teknik budidaya udang vaname. Proses perakitan perangkat MNBG dan strategi pemasaran hasil panen juga menjadi bagian dari pendampingan komprehensif ini.
Dr. Dodi Hermawan, salah satu anggota tim peneliti, menjelaskan bahwa popularitas budidaya udang vaname melonjak drastis setelah produksi udang windu anjlok akibat wabah White Spot Syndrome Virus (WSSV). Jenis udang ini dipilih karena memiliki siklus pertumbuhan lebih singkat dan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Selain itu, benur yang digunakan merupakan Specific Pathogen Free (SPF) dan memiliki ketahanan terhadap penyakit atau Specific Pathogen Resistant (SPR).
Dr. Haroki Madani menambahkan bahwa ukuran gelembung yang sangat kecil memungkinkan transfer oksigen ke dalam air berlangsung lebih efisien. Teknologi ini juga berfungsi menjaga stabilitas kualitas air dan mengurangi potensi serangan penyakit pada udang. Pembudidaya tidak perlu khawatir tentang fluktuasi oksigen yang sering terjadi pada metode tradisional.
Respons Pembudidaya dan Harapan ke Depan
Mushowir, seorang peserta pelatihan, menyampaikan apresiasinya terhadap program ini. Ia menilai bahwa materi yang disampaikan memberikan wawasan baru yang langsung bisa diaplikasikan dalam aktivitas budidaya sehari-hari. Teknologi ini dinilai mudah dioperasikan dan tidak memerlukan investasi besar untuk pemeliharaannya.
Kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan wawasan baru mengenai teknologi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas tambak udang vaname, katanya dengan antusias.
Tim Untirta berharap agar inovasi MNBG ini dapat terus diadopsi oleh para pembudidaya di Desa Domas dan wilayah sekitarnya. Dengan demikian, produktivitas tambak akan terus meningkat dan usaha budidaya udang vaname menjadi lebih berkelanjutan di masa depan. Teknologi ini juga berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut ke berbagai daerah budidaya udang di Indonesia.
