Produktivitas Padi di Temanggung Capai 10,2 Ton per Hektare
Kabarteras.com – Panen padi dari lahan percontohan di Desa Plosogaden, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, menghasilkan produktivitas 10,2 ton gabah per hektare. Capaian di area seluas lima hektare itu memperlihatkan potensi penerapan pemupukan berimbang dalam mendukung hasil budidaya padi yang lebih tinggi.
Panen dilaksanakan pada Selasa, 30 September 2026. Pengukuran hasil melalui metode ubinan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Temanggung mencatat angka 10,2 ton per hektare untuk musim tanam tersebut.
Lahan tersebut menjadi bagian dari pengujian pola pemupukan yang mengurangi pemakaian pupuk sintetis, lalu memadukannya dengan pupuk hayati cair atau PHC. Dalam perlakuan yang diterapkan, pupuk sintetis digunakan sebanyak 70 persen dari dosis penuh, sementara 30 persen dikurangi dan digantikan melalui penggunaan enam liter PHC Pureplant untuk setiap hektare.
Uji Pola Pemupukan di Tiga Daerah
Program demplot di Temanggung tidak berjalan sendiri. Pengembangannya melibatkan Komisi IV DPR RI, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, PT Pupuk Indonesia (Persero), Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia atau Intani, PT Intani Bumi Lestari (IBL), serta PT Indoraya Mitra Persada 168 (IMP 168).
Selain Temanggung, pengujian yang sama dilakukan di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Setiap wilayah menggunakan demplot seluas lima hektare. Dengan demikian, keseluruhan area pengujian di tiga lokasi mencapai 15 hektare.
Anggota Komisi IV DPR RI Panggah Susanto menilai hasil dari demplot itu layak menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan produksi padi. Ia mendorong pengembangan pemupukan berimbang secara lebih luas, dengan tujuan menjaga produktivitas sembari membantu efisiensi proses budidaya dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Hasilnya kenaikan produksi rata-rata 40 persen, dari sebelumnya rata-rata 6 ton per hektare naik menjadi 10 ton lebih per hektare,” ujar Panggah Susanto saat panen di Desa Plosogaden, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung.
Kenaikan tersebut menggambarkan perbedaan yang cukup besar dibandingkan hasil rata-rata sebelum penerapan pola uji. Dari kisaran enam ton per hektare, produksi pada sejumlah perlakuan dapat melampaui angka 10 ton per hektare.
Perbandingan Hasil di Bantul
Hasil tinggi juga telah terlihat dalam demplot di Bantul. Pada perlakuan yang memakai 70 persen pupuk sintetis dan PHC Pureplant, produktivitas tertinggi mencapai 10.097 kilogram per hektare.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan perlakuan penggunaan pupuk kimia 100 persen tanpa tambahan PHC, yang menghasilkan 6.624 kilogram per hektare. Perbandingan tersebut menjadi salah satu dasar penting untuk melihat bagaimana kombinasi input budidaya dapat memberi hasil berbeda pada tanaman padi.
Pemupukan berimbang pada dasarnya menempatkan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan sebagai bagian dari pertimbangan budidaya. Dalam pengujian ini, pengurangan pupuk sintetis tidak diterapkan sebagai langkah tunggal, melainkan dipadukan dengan pupuk hayati cair. Kombinasi tersebut diuji langsung pada lahan sawah dengan skala lima hektare di setiap wilayah.
Bagi petani, hasil demplot memiliki arti praktis karena dapat menjadi contoh lapangan mengenai perlakuan yang sedang diuji. Pengukuran produktivitas melalui ubinan juga membantu menunjukkan hasil panen dalam satuan per hektare, sehingga capaian antarperlakuan maupun antarwilayah dapat dibandingkan secara lebih jelas.
Dorongan untuk Ketahanan Pangan
Padi tetap menjadi komoditas penting dalam budidaya pangan di banyak daerah. Karena itu, peningkatan hasil per hektare menjadi salah satu aspek yang relevan untuk mendukung ketersediaan produksi tanpa harus selalu menambah luas lahan tanam.
Temuan di Plosogaden memperlihatkan bahwa pola pemupukan berimbang dapat diuji sebagai salah satu pilihan dalam pengelolaan budidaya padi. Namun, penerapannya perlu tetap memperhatikan kondisi spesifik setiap lokasi, termasuk pengelolaan tanaman selama satu musim tanam dan perlakuan yang digunakan pada demplot.
Kolaborasi antara lembaga legislatif, pemerintah, perusahaan pupuk, serta organisasi dan pelaku di sektor pertanian dalam program ini menunjukkan pentingnya pengujian lapangan sebelum suatu pendekatan dikembangkan lebih luas. Data dari Temanggung, Bantul, dan Bandung dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengembangan pola budidaya yang mengejar produktivitas sekaligus penggunaan input yang lebih efisien.
Dengan produktivitas 10,2 ton per hektare di Temanggung dan capaian tertinggi 10.097 kilogram per hektare pada demplot Bantul, pengujian ini menambah gambaran tentang peluang peningkatan hasil padi melalui perpaduan pupuk sintetis dan pupuk hayati cair. Pengembangan berikutnya akan menentukan sejauh mana pola tersebut dapat diterapkan pada lebih banyak wilayah pertanian.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Panen Padi Temanggung Tembus 10 2 Ton?
Panen Padi Temanggung Tembus 10 2 Ton is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Panen Padi Temanggung Tembus 10 2 Ton matter?
Panen Padi Temanggung Tembus 10 2 Ton matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

