Skip to content
Ameera

Bolehkah Umat Islam Ikut Melukat di Bali? Ini Kata MUI

Betty Thomas - kabarteras.com 3 mins read

Salah satu pertanyaan yang sering muncul di kalangan jamaah Muslim adalah bolehkah umat Islam ikut melukat saat berwisata ke Bali. KH Samsul Hadi, Ketua

Bolehkah Umat Islam Ikut Melukat di Bali? Ini Kata MUI

MUI Bali: Panduan Lengkap Umat Islam Mengenai Ritual Melukat di Pulau Dewata

Kabarteras.com – Salah satu pertanyaan yang sering muncul di kalangan jamaah Muslim adalah bolehkah umat Islam ikut melukat saat berwisata ke Bali. KH Samsul Hadi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali, memberikan penjelasan komprehensif mengenai hal ini. Beliau secara tegas mengimbau agar umat Islam mempertimbangkan dengan matang sebelum mengikuti ritual penyucian diri tersebut. Tujuan utamanya adalah menjaga kemurnian akidah seorang muslim dari pengaruh ritual non-Islam.

Umat islam disarankan tidak melakukan melukat karena bisa merusak akidah. Orang yang memiliki tauhid yang kuat tidak mungkin mau melakukan melukat,

KH Samsul Hadi

Pernyataan resmi ini disampaikan pada hari Rabu, 29 Juli 2026, saat KH Samsul dihubungi oleh media Republika. Beliau menjelaskan bahwa meskipun banyak pihak menganggap melukat sekadar kegiatan wisata modern, bagi muslim yang akidahnya belum kokoh, ritual ini berpotensi mengganggu keyakinan. Penting untuk dipahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi spiritual yang perlu dipertimbangkan oleh setiap individu.

Memahami Akar Tradisi Penyucian Diri

Secara etimologi, kata melukat berasal dari istilah “Sulukat”. Dalam bahasa tersebut, unsur “Su” bermakna baik, sedangkan “lukat” merujuk pada proses penyucian. Dengan demikian, makna dasarnya adalah penyucian yang dilakukan dengan niat baik. Bagi penganut Hindu di Bali, tradisi ini bukan hanya soal tren media sosial atau aktivitas liburan biasa. Ritual ini memiliki kedalaman makna spiritual yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Ritual melukat telah berlangsung secara turun-temurun sebagai bagian integral dari praktik keagamaan Hindu di Bali. Tujuannya adalah membersihkan jiwa dari hal-hal negatif serta memohon kesucian baik secara lahir maupun batin. Pelaksanaan ritual ini pun tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan mengikuti tata cara yang telah ditetapkan sejak lama.

Waktu pelaksanaan biasanya disesuaikan dengan hari-hari yang dianggap suci menurut kalender Hindu. Beberapa di antaranya adalah Kajeng Kliwon, Tilem, dan Purnama. Sementara itu, lokasi yang dipilih umumnya memiliki mata air suci. Tempat-tempat populer antara lain Pura Tirta Empul di Gianyar, Pura Tirta Sudamala di Bangli, serta Pura Taman Beji Griya di Badung.

Fenomena Publik Figur Muslim Mengikuti Melukat

Belakangan ini, fenomena melukat semakin ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Hal ini terjadi karena sejumlah tokoh publik Indonesia yang beragama Islam terlihat mengikuti ritual tersebut. Nama-nama yang tercatat antara lain Nikita Willy, Raline Shah, Ariel Tatum, Cinta Laura, dan Pevita Pearce. Kehadiran mereka dalam ritual ini memicu diskusi luas di kalangan masyarakat.

Baru-baru ini, Kana Sybilla, putri sulung pasangan Zaskia Adya Mecca dan Hanung Bramantyo, juga ikut serta dalam ritual melukat. Zaskia membagikan momen tersebut melalui unggahan di Instagram Story. Dalam video yang diunggah, terlihat Sybil mengenakan pakaian khas Bali sambil mandi di air mancur dan berdoa bersama. Momen ini semakin memperkuat tren yang sedang berkembang.

Keseimbangan Antara Akidah dan Toleransi Beragama

KH Samsul Hadi menambahkan bahwa masyarakat muslim kadang cenderung latah dan ikut-ikutan tren tanpa memahami makna sebenarnya. Beliau mencontohkan bahwa banyak orang yang hanya ingin merasakan euforia semata. Padahal, bagi mereka yang memahami akidah dengan baik, tidak ada alasan untuk mengikuti ritual ini. Setiap keputusan harus didasarkan pada pemahaman yang mendalam.

Memang itu suka dianggap budaya, pariwisata. Tapi kalau terlalu dijiwai, bisa mengganggu akidah,

KH Samsul Hadi

Menurut beliau, masih tersedia berbagai pilihan hiburan dan aktivitas relaksasi di Bali yang bisa dinikmati tanpa harus mengikuti ritual melukat. Beliau juga mengingatkan agar umat Islam tidak sekadar mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO). Ada banyak alternatif yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Sebagai pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali sekaligus wakil ketua PWNU Provinsi Bali, KH Samsul menegaskan bahwa toleransi tetap dijaga. Namun, dalam hal akidah, pihaknya bersikap tegas. FKUB Bali memang menaungi berbagai agama, termasuk Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam.

Jadi di FKUB ya seluruh agama ada Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam. Jadi kalau ngomongin akidah itu ya kami sangat tegas,

KH Samsul Hadi

Kesimpulannya, pertanyaan bolehkah umat Islam ikut melukat memiliki jawaban yang jelas dari perspektif keislaman. Meskipun Bali dikenal sebagai destinasi wisata yang inklusif, umat Islam perlu mempertimbangkan aspek spiritual dalam setiap keputusannya. Toleransi beragama tidak berarti mengabaikan prinsip-prinsip dasar akidah yang telah diyakini selama ini.

Join the discussion