Mengapa Ada Perokok yang Nggak Kena Kanker?
Mengapa Ada Perokok yang Nggak Kena Kanker? Pertanyaan ini sering muncul ketika kita melihat fakta bahwa tidak semua perokok mengalami penyakit mematikan
Mengapa Ada Perokok yang Nggak Kena Kanker? Penjelasan Ilmiahnya
Kabarteras.com – Mengapa Ada Perokok yang Nggak Kena Kanker? Pertanyaan ini sering muncul ketika kita melihat fakta bahwa tidak semua perokok mengalami penyakit mematikan tersebut. Padahal, merokok secara konsisten dianggap sebagai salah satu faktor risiko utama untuk berbagai jenis kanker. Namun, penelitian terbaru memberikan penjelasan menarik tentang mengapa ada perbedaan signifikan antara individu yang merokok.
Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature, komposisi genetik setiap orang memainkan peran krusial dalam menentukan bagaimana tubuh merespons paparan zat-zat pemicu kanker. Ketika DNA mengalami kerusakan akibat paparan karsinogen, faktor genetiklah yang sering kali menjadi penentu utama apakah seseorang akan mengembangkan kanker atau tidak.
Peran Genetik dalam Perkembangan Kanker
Studi ini memberi kita petunjuk yang menarik bahwa gen yang kita warisi mungkin memiliki pengaruh besar pada cara kanker berkembang setelah kerusakan DNA, kata kepala informasi penelitian Cancer Research UK Sam Godfrey dilansir laman Euronews, Selasa (28/7/2027).
Para ilmuwan mengidentifikasi bahwa variasi genetik bawaan, sekecil apapun, mampu mengubah cara tumor berevolusi. Hal ini terjadi meskipun paparan zat karsinogen yang diterima sama. Selain itu, susunan genetik juga mengatur jenis mutasi yang muncul, pembentukan tumor, hingga respons tubuh terhadap terapi pengobatan.
Duncan Odom, yang saat itu memimpin penelitian di CRUK Cambridge Institute, menjelaskan bahwa ini adalah kali pertama bukti kuat mengenai pengaruh latar belakang genetik terhadap proses mutasi. Menurutnya, penelitian ini berhasil menunjukkan sejauh mana genetik memengaruhi jalur yang mengarah pada perkembangan tumor.
Untuk membuktikan temuan tersebut, para ilmuwan memanfaatkan empat strain tikus dengan perbedaan genetik. Model ini dipilih karena mampu merepresentasikan tingkat keberagaman genetik manusia. Seluruh tikus kemudian diberikan paparan diethylnitrosamine (DEN), zat karsinogen penyebab kanker hati.
DEN merupakan senyawa yang lazim ditemukan dalam asap rokok serta berbagai makanan olahan. Senyawa ini mampu merusak DNA sel hati, yang selanjutnya memicu mutasi sebagai awal mula pembentukan tumor. Proses paparan dilakukan dengan ketat, di mana semua tikus menerima dosis zat karsinogen yang identik pada usia yang sama, tepatnya saat berumur 15 hari.
Meskipun kondisinya seragam, perkembangan kanker pada masing-masing tikus mengikuti jalur evolusi yang berbeda-beda sesuai latar belakang genetik mereka. Para peneliti melakukan analisis mendalam terhadap hampir 600 tumor untuk merekonstruksi sejarah perkembangan kanker dari waktu ke waktu.
Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun banyak tumor mengaktifkan proses biologis serupa untuk mendorong pertumbuhan, mereka mencapainya melalui mutasi dan perubahan genetik yang berbeda. Temuan ini menegaskan bahwa kanker tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti paparan zat karsinogen.
Susunan genetik bawaan seseorang juga berperan krusial dalam menentukan jalur evolusi kanker setelah tumor mulai terbentuk. Inilah alasan mengapa beberapa perokok tetap sehat sementara yang lain mengembangkan penyakit serius. Pemahaman ini membuka peluang untuk pendekatan personalisasi dalam pencegahan dan pengobatan kanker di masa depan.
