Skip to content
Ameera

Pakar Kesehatan: Anggapan MSG Zat Berbahaya tidak Didukung Bukti Ilmiah

Emily Anderson - kabarteras.com 2 mins read

SG sebagai Zat Berbahaya Tidak Berdasar Pakar Kesehatan - Dalam upaya memperjelas kesalahpahaman seputar bahan pangan, PT Sasa Inti meluncurkan kampanye

Pakar Kesehatan: Anggapan MSG Zat Berbahaya tidak Didukung Bukti Ilmiah

Pakar Kesehatan: Mitos MSG sebagai Zat Berbahaya Tidak Berdasar

Pakar Kesehatan – Dalam upaya memperjelas kesalahpahaman seputar bahan pangan, PT Sasa Inti meluncurkan kampanye #MSGYangBenar sebagai bagian dari acara edukasi. Perusahaan menyebutkan bahwa beberapa referensi ilmiah membuktikan kandungan natrium dalam MSG jauh lebih rendah dibandingkan garam dapur. Hal ini memungkinkan penggunaan MSG untuk mengurangi asupan garam tanpa mengorbankan rasa makanan.

Dokter spesialis Reisa Broto Asmoro memberikan penjelasan bahwa monosodium glutamat (MSG) sering kali disalahartikan sebagai bahan berbahaya. Menurutnya, sejak dulu glutamat sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia, bahkan terdapat secara alami di berbagai makanan sehari-hari.

“Glutamat bukanlah benda asing bagi tubuh kita, karena zat ini bisa ditemukan dalam makanan seperti keju, kecap, atau ASI. Maka, kita sejak bayi sudah terbiasa dengan rasa gurih yang dihasilkannya,” ujar Reisa dalam acara #MSGYangBenar di Surabaya.

Reisa menekankan bahwa kekhawatiran terhadap MSG lebih banyak dipengaruhi oleh mitos, bukan temuan ilmiah. Ia menjelaskan, tidak ada lembaga kesehatan resmi yang mengklasifikasikan MSG sebagai berbahaya jika digunakan sesuai dosis normal dalam makanan.

“Banyak orang menyebut MSG sebagai zat berbahaya, tetapi fakta menunjukkan bahwa Kementerian Kesehatan, BPOM, FDA, dan WHO tidak menempatkan MSG dalam daftar bahan berisiko,” katanya.

Menurut Reisa, standar internasional justru fokus pada pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak, yang dikenal sebagai prinsip GGL. Ia menambahkan bahwa MSG sebenarnya bisa menjadi alat bantu untuk menjaga keseimbangan nutrisi dalam makanan.

“Panduan kesehatan resmi dari WHO dan lembaga lainnya lebih menekankan pembatasan gula, garam, dan lemak dalam pola makan, bukan MSG. Maka, kita harus lebih selektif dalam menerima informasi agar tidak terjebak oleh mitos yang keliru,” ujar Reisa.

Kampanye #MSGYangBenar Diharapkan Perbaiki Persepsi Publik

Albert Dinata, kepala pemasaran PT Sasa Inti, mengatakan kampanye ini bertujuan mengubah pandangan masyarakat yang cenderung negatif terhadap MSG. “MSG bukan musuh, tetapi solusi praktis untuk membuat makanan sehat tetap enak,” ujarnya.

Join the discussion