Setop Jadikan Anak Berkebutuhan Khusus Bahan Tertawaan
Baru-baru ini, platform media sosial digemparkan oleh kasus dugaan perundungan yang menimpa seorang anak berkebutuhan khusus (ABK). Kejadian ini melibatkan
Stigma Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus: Perspektif Psikolog Klinis
Kabarteras.com – Baru-baru ini, platform media sosial digemparkan oleh kasus dugaan perundungan yang menimpa seorang anak berkebutuhan khusus (ABK). Kejadian ini melibatkan oknum karyawan restoran di Jakarta yang diketahui menertawakan serta meniru gerakan-gerakan anak tersebut. Sang ibu, yang menjadi korban dalam insiden ini, telah menyampaikan keluhannya melalui video yang viral. Setop Jadikan Anak Berkebutuhan Khusus Bahan – Kasus ini menjadi sorotan publik karena menunjukkan betapa rapuhnya rasa empati di tengah masyarakat modern.
Akar Masalah Stigma di Masyarakat
Mengapa pandangan negatif terhadap anak ABK masih kerap muncul? Retno IG Kusuma, seorang psikolog klinis senior, menjelaskan bahwa kurangnya pemahaman masyarakat tentang kondisi anak berkebutuhan khusus menjadi penyebab utamanya. Banyak orang yang belum memahami bahwa perilaku atau gerakan anak-anak ini bukan karena mereka “aneh”, melainkan bagian dari kondisi mereka.
“Kalau tidak punya empati, orang itu akan mudah menjadikan anak ABK sebagai bahan tertawaan. Saya juga melihat ini terjadi karena rendahnya kepedulian sosial terhadap orang tua dengan anak ABK,” ujar Retno.
Sebagai founder Pradnyagama Pusat Layanan Psikologi Bali dan SLB Pradnyagama, Retno menilai insiden tersebut mencerminkan minimnya empati dan kepedulian masyarakat. Ia juga menjabat sebagai humas pengurus pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan menyampaikan pandangannya saat dihubungi Republika pada Rabu (22/7/2026). Menurut Retno, Setop Jadikan Anak Berkebutuhan Khusus sebagai bahan tertawaan adalah langkah pertama untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.
Beban Psikologis Orang Tua
Menjadi orang tua bagi anak berkebutuhan khusus bukanlah hal yang mudah. Retno menekankan bahwa ketika anak menjadi sasaran ejekan atau stigma, dampak psikologis yang dirasakan orang tua sangatlah berat. Mereka harus menghadapi tidak hanya tantangan membesarkan anak, tetapi juga tekanan sosial dari lingkungan sekitar.
“Dampaknya cukup besar buat orang tua ya, karena menjadi orang tua anak ABK itu merupakan perjuangan dan tantangan. Banyak orang tua yang tidak percaya diri dan merasa malu. Bahkan ada kejadian anak ABK dipasung atau disembunyikan di dalam rumah,” kata Retno.
Menurutnya, perlakuan negatif berupa ejekan dan stigma dari masyarakat dapat membuat orang tua maupun anak semakin tertekan. Perasaan tidak beruntung, tidak berdaya, hingga depresi sering kali muncul. Dalam sejumlah kasus, tekanan yang muncul saat membesarkan anak ABK turut memicu keretakan rumah tangga hingga perceraian. Setop Jadikan Anak Berkebutuhan Khusus sebagai beban tambahan bagi orang tua berarti kita harus memberikan dukungan yang tulus.
“Kalau sudah terjadi perceraian, tentu akan semakin berat bagi ibu atau bapak tunggal untuk mengurus anak berkebutuhan khusus sendirian,” kata dia.
Dukungan yang Diperlukan
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Retno mengimbau masyarakat untuk berupaya memberi dukungan kepada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Ia juga menekankan pentingnya dukungan dan keterlibatan keluarga besar dalam proses tumbuh kembang anak ABK. Tanpa dukungan ini, banyak orang tua yang merasa terisolasi dan overwhelmed.
“Kembali ya, membesarkan anak ABK itu berat sekali. Saya acungkan dua jempol pada orang tua yang memiliki anak ABK. Dan karena berat, dukungan keluarga besar, kakek-nenek sangat penting. Masyarakat juga perlu mendukung,” kata Retno.
Ia kemudian mendorong para orang tua untuk terbuka terhadap kondisi anak dan membantu mereka mengembangkan potensi yang dimiliki. Meskipun anak ABK tidak dapat disamakan dengan anak pada umumnya, mereka tetap memiliki bakat dan talenta yang bisa dikembangkan. Dengan Setop Jadikan Anak Berkebutuhan Khusus sebagai bahan tertawaan, kita membuka peluang bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang sesuai kemampuan mereka.
