Tren Duduk Terbalik di Mobil Ramai di Medsos, Pakar Ingatkan Bahayanya
Platform media sosial saat ini dipenuhi oleh fenomena baru di mana para penumpang memilih posisi duduk menghadap ke belakang pada kursi depan kendaraan. Tren
Penumpang Mobil Duduk Membelakangi Arah Laju, Pakar Transportasi Soroti Risiko Kematian
Kabarteras.com – Platform media sosial saat ini dipenuhi oleh fenomena baru di mana para penumpang memilih posisi duduk menghadap ke belakang pada kursi depan kendaraan. Tren Duduk Terbalik di Mobil semakin populer seiring dengan pembuatan konten video yang mendokumentasikan aktivitas tersebut secara luas. Namun, para ahli mulai menyuarakan kekhawatiran serius terkait potensi bahaya yang mengintai bagi keselamatan penumpang.
Peringatan Ketat dari Dewan Penasihat MTI
Djoko Setijowarno, seorang pengamat transportasi yang juga menjabat sebagai Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia, menegaskan bahwa kebiasaan ini sangat berisiko bagi keselamatan jiwa. Ia menyarankan agar masyarakat tidak meniru perilaku tersebut, terutama ketika kendaraan beroperasi di jalan raya umum. Menurut Djoko, Tren Duduk Terbalik di Mobil ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan ancaman nyata yang sering diabaikan.
Itu sangat membahayakan, jangan ditiru. Apalagi jika mobil itu berkendara di jalan umum, karena jalan itu milik bersama. Di situ ada kendaraan lain. Kalau tiba-tiba terjadi sesuatu, entah menabrak atau tertabrak, risiko keselamatannya sangat besar.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Djoko saat dihubungi oleh media Republika pada hari Rabu, tanggal 29 Juli 2026. Ia menekankan bahwa keselamatan di jalan raya adalah tanggung jawab bersama yang tidak boleh diremehkan. Banyak orang yang terdorong mengikuti Tren Duduk Terbalik di Mobil tanpa mempertimbangkan konsekuensi seriusnya.
Ketidakpatuhan Sabuk Pengaman dan Fungsi Airbag
Salah satu masalah utama yang ditonjolkan oleh Djoko adalah ketidakpatuhan penumpang terhadap penggunaan sabuk pengaman. Padahal, alat keselamatan ini wajib dikenakan selama perjalanan untuk menjamin keamanan. Ia membandingkan kondisi di Indonesia dengan negara tetangga seperti Singapura, di mana setiap penumpang, termasuk yang duduk di barisan belakang, harus memakai sabuk pengaman. Jika tidak, kendaraan tidak diperbolehkan bergerak.
Sayangnya di kita itu, banyak yang abai soal sabuk pengalaman, seperti di tren ini. Padahal kalau lihat di Singapura, semuanya wajib pakai sabuk pengaman, bahkan penumpang di kursi belakang. Kalau enggak pakai, mobil enggak boleh jalan.
Dampak lebih serius muncul ketika kecelakaan terjadi. Posisi duduk menghadap ke belakang meningkatkan kemungkinan benturan pada kepala dan dada, yaitu area tubuh yang mengandung organ vital. Selain itu, sistem airbag yang terpasang di mobil tidak akan berfungsi optimal dalam posisi ini. Airbag dirancang khusus untuk melindungi kepala dan dada penumpang yang menghadap ke depan.
Kalau dia duduk ke belakang, airbag hanya mengenai punggungnya saja. Padahal tujuan airbag itu untuk melindungi kepala dan dada. Di bagian dada ada paru-paru dan jantung. Jadi kalau duduk menghadap ke belakang, kepala dan dada tidak akan terlindungi oleh airbag.
Distraksi dan Kurikulum Keselamatan
Aktivitas tambahan yang sering menyertai Tren Duduk Terbalik di Mobil, seperti mengobrol atau merekam video sambil kendaraan melaju, juga dinilai dapat mengganggu konsentrasi pengemudi dan penumpang. Oleh karena itu, Djoko secara khusus mengimbau generasi muda untuk tidak ikut-ikutan mengikuti mode yang berbahaya ini.
Saya imbau masyarakat, terutama anak muda, untuk tidak ikut tren seperti itu karena sangat membahayakan. Keselamatan bukan untuk dijadikan permainan.
Menurut analisisnya, masyarakat Indonesia cenderung meremehkan aspek keselamatan dalam berkendara. Salah satu akar masalahnya adalah belum adanya kurikulum keselamatan yang diajarkan sejak usia dini. Dengan adanya kurikulum tersebut, anak-anak akan lebih memahami pentingnya keselamatan sejak awal, sehingga perilaku tidak wajar dapat diminimalisir.
Saya juga melihat masyarakat Indonesia selalu menyepelekan keselamatan saat bertransportasi. Karena kita tidak punya kurikulum keselamatan. Mestinya kalau ada kurikulum, kita belajar sejak dini kepada anak-anak. Tapi kita tidak ada kurikulum itu, jadi muncul perilaku-perilaku yang tidak semestinya dilakukan karena mereka tidak paham soal keselamatan.
Kesimpulannya, meskipun Tren Duduk Terbalik di Mobil terlihat menarik secara visual, risiko keselamatan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada manfaatnya. Masyarakat perlu lebih bijak dalam memilih posisi duduk yang aman selama perjalanan.
