Key Strategy: Ekonom: PMI Manufaktur Masuk Zona Bahaya, Industri Indonesia Sudah Lama Sakit
Key Strategy: Ekonom Menyoroti PMI Manufaktur Turun, Industri Indonesia Terus Berada dalam Kondisi Risiko Key Strategy - Ekonom senior Didik J.
Key Strategy: Ekonom Menyoroti PMI Manufaktur Turun, Industri Indonesia Terus Berada dalam Kondisi Risiko
Key Strategy – Ekonom senior Didik J. Rachbini dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti penurunan terus-menerus Indeks Manajer Pemesanan (PMI) manufaktur Indonesia sebagai tanda pertumbuhan industri yang sedang mengalami tekanan. Menurutnya, sektor manufaktur yang sebelumnya menjadi tulang punggung perekonomian kini mulai terguncang, dengan data PMI yang terus menunjukkan kondisi kontraksi.
PMI Manufaktur dan Kondisi Ekonomi Nasional
Menurut laporan S&P Global, PMI manufaktur Indonesia mencapai angka 46,9 pada bulan Juni 2026. Angka ini jauh di bawah ambang 50, yang menandakan bahwa aktivitas produksi di sektor ini sedang mengalami perlambatan. Didik mengatakan, situasi ini menggambarkan keadaan industri yang tidak stabil, yang telah berlangsung dalam waktu lama dan mengancam pertumbuhan ekonomi nasional.
“Penurunan PMI manufaktur adalah indikator jelas bahwa industri Indonesia sedang menghadapi krisis struktural. Kebijakan yang tidak konsisten membuat sektor ini terus-menerus berada dalam zona bahaya,” tutur Didik, seperti dikutip pada hari Ahad (5/7/2026).
Faktor-Faktor yang Menghambat Pertumbuhan Manufaktur
Didik menjelaskan bahwa tekanan pada sektor manufaktur berasal dari dua sumber utama: faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal seperti perubahan geopolitik dan ketidakpastian global berdampak pada permintaan pasar. Sementara itu, faktor internal seperti biaya produksi yang tinggi, prosedur birokrasi yang rumit, dan kurangnya insentif bagi investasi menjadikan industri dalam negeri sulit berkembang.
Menurutnya, pola investasi yang terjadi saat ini tidak lagi mengarah ke sektor produktif. “Key Strategy dalam pembangunan ekonomi harus mengutamakan manufaktur sebagai pilar utama, tapi kita justru mengalihkan fokus ke sektor-sektor yang tidak memberikan kontribusi signifikan,” imbuh Didik. Ia menegaskan bahwa strategi ini berisiko mengurangi daya saing Indonesia di tengah persaingan ASEAN yang ketat.
Didik juga menyoroti daya beli masyarakat yang menurun. Pengurangan konsumsi rumah tangga mengakibatkan permintaan terhadap barang manufaktur berkurang, yang pada akhirnya memperparah tekanan pada industri. Ini menciptakan siklus negatif: ketika produksi menurun, lapangan kerja berkurang, dan daya beli masyarakat semakin melemah.
Persaingan dengan Negara Tetangga dan Solusi
Key Strategy dalam mengatasi tantangan ini harus melibatkan reformasi kebijakan yang terarah. Didik mengkritik bahwa Indonesia belum mampu memperkuat sektor manufaktur dengan strategi yang efektif. Ia membandingkan situasi ini dengan Vietnam, yang berhasil mencapai status negara berpendapatan menengah atas pada Juli 2026.
Menurut Didik, keberhasilan Vietnam didasari oleh kebijakan konsisten selama lebih dari dua dekade. Pemerintah Vietnam mendorong ekspor, transfer teknologi, dan inovasi, sehingga meningkatkan kualitas produk industri dalam negeri. “Key Strategy Indonesia harus meniru pendekatan Vietnam, tetapi jangan mengulangi kesalahan masa lalu,” jelasnya.
Didik menekankan bahwa pemerintah perlu segera melakukan penyesuaian kebijakan industri untuk mencegah kemunduran lebih jauh. Ia menyebutkan bahwa kegagalan dalam menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya saing akan berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi. “Key Strategy yang tepat adalah menguatkan manufaktur dengan dukungan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Menurut analisis ekonomi, penurunan PMI manufaktur Indonesia menggambarkan pergeseran keseimbangan pertumbuhan ekonomi. Jika sektor ini terus merosot, maka produktivitas nasional akan terganggu, serta daya tarik investasi asing akan berkurang. Didik berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperkuat posisi manufaktur di pasar global.
