Topics Covered: Freeport Incar Produksi Pulih 100 Persen pada Akhir 2027
Freeport Incar Produksi Pulih 100 Persen pada Akhir 2027 Topics Covered - PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan pemulihan penuh kapasitas produksi pada
Freeport Incar Produksi Pulih 100 Persen pada Akhir 2027
Topics Covered – PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan pemulihan penuh kapasitas produksi pada akhir tahun 2027 setelah mengalami penurunan akibat kejadian longsoran di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC). Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, mengungkapkan bahwa perusahaan akan berupaya memulihkan operasional secara bertahap, dengan proyeksi produksi mencapai 100 persen dari kapasitas maksimal sebelum masa aktif 2027. Target ini menjadi fokus utama dalam upaya menjaga stabilitas pasokan mineral tembaga dan emas di Indonesia.
Langkah Pemulihan Pasca-Longsoran
Pemulihan produksi Freeport Indonesia dilakukan secara beriringan dengan perbaikan kondisi area tambang dan pengembalian pasokan konsentrat ke smelter di Gresik. Setelah kejadian longsoran yang terjadi 8 September 2025 menghentikan operasional sementara, perusahaan mempercepat proses rehabilitasi fasilitas pemurnian. Fasilitas baru dijadwalkan aktif memproses konsentrat dari Papua sejak September 2026, dengan fase pemanasan operasional berlangsung hingga akhir tahun.
“Kami sedang fokus pada peningkatan efisiensi dan keandalan fasilitas untuk memastikan produksi bisa pulih sepenuhnya pada akhir 2027,” tutur Tony dalam pertemuan dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026).”
Kejadian longsoran tersebut menyebabkan alur pasokan konsentrat terganggu, sehingga smelter hanya bisa mengolah stok yang tersisa. Hal ini memicu penurunan produksi hingga 65 persen dari kapasitas maksimal pada 2026. Dalam beberapa bulan setelah kejadian, operasional perusahaan secara perlahan mulai stabil, namun masih memerlukan waktu untuk mengembalikan kapasitas ke tingkat semula.
Dalam proses pemulihan, PTFI juga melakukan evaluasi terhadap sistem operasional dan keselamatan tambang. Langkah ini bertujuan mengurangi risiko serupa di masa depan. Tony Wenas menyebut bahwa perusahaan akan menginvestasikan dana signifikan untuk memperkuat infrastruktur dan teknologi produksi. Dengan peningkatan ini, Freeport Indonesia berharap dapat memenuhi komitmen produksi selama 2027.
Target Produksi Tahunan dan Impak Ekonomi
Secara tahunan, PTFI menargetkan produksi tembaga sebesar 800 juta pound pada 2026, yang setara dengan 700 ribu ounce emas. Angka ini akan meningkat menjadi 1,2 miliar pound tembaga dan 1 juta ounce emas pada 2027, serta terus bertambah hingga 1,6 miliar pound tembaga dan 1,4 juta ounce emas pada 2028. Pemulihan kapasitas produksi menjadi penting untuk memastikan kontribusi industri tambang terhadap perekonomian nasional.
“Dengan mencapai 100 persen produksi pada 2027, kami dapat menjamin pasokan mineral yang stabil bagi industri pengolahan dan pasar internasional,” jelas Tony. “
Kapasitas tambang Kucing Liar, yang sedang dikembangkan, akan menjadi pendorong utama untuk menjaga kelanjutan produksi setelah DMLZ mengalami penurunan kapasitas. Fasilitas ini direncanakan mulai beroperasi pada 2029, seiring dengan peningkatan produksi bijih menjadi 208 ribu ton per hari sebelum mencapai 226 ribu ton per hari pada 2029. Target ini menunjukkan komitmen PTFI untuk mengembangkan potensi sumber daya alam Indonesia secara berkelanjutan.
Dalam konteks ekonomi nasional, pemulihan produksi Freeport Indonesia akan memberikan dampak positif terhadap pendapatan negara dan sektor pertambangan. Tambang Grasberg tetap menjadi tulang punggung produksi, dengan kontribusi signifikan terhadap cadangan emas dan tembaga Indonesia. Dengan peningkatan kapasitas, Freeport Indonesia diperkirakan akan menjadi salah satu pelaku industri mineral terbesar di Asia Tenggara.
Topics Covered – Selain fokus pada pemulihan operasional, PTFI juga mengupas rencana pengembangan jangka panjang, termasuk ekspansi ke daerah lain seperti Papua. Tony Wenas menegaskan bahwa peningkatan kapasitas produksi akan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal serta meningkatkan daya saing industri tambang nasional. Dengan target ini, Freeport Indonesia berharap dapat memenuhi kebutuhan industri dan pasar global sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor mineral.
Di sisi lain, upaya pemulihan produksi juga memengaruhi angka keuntungan perusahaan. Tony Wenas memperkirakan bahwa dengan memperbaiki kapasitas, Freeport Indonesia akan mencapai target pendapatan yang lebih tinggi pada 2027. Namun, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti perbaikan infrastruktur dan pengelolaan sumber daya manusia. Meski demikian, strategi perusahaan tetap optimis dalam mencapai rencana produksi 100 persen pada akhir tahun 2027.
