Skip to content
Rejabar

Special Plan: Tumpukan Sampah Berserakan di Jalanan Cirebon, Pemkab Tuntaskan Pengelolaan Mandiri di Desa

Emily Anderson - kabarteras.com 3 mins read

Special Plan Tumpukan Sampah Berserakan di Jalanan Cirebon, Pemkab Tuntaskan Pengelolaan Mandiri di Desa Special Plan - Dalam upaya meningkatkan kualitas

Special Plan: Tumpukan Sampah Berserakan di Jalanan Cirebon, Pemkab Tuntaskan Pengelolaan Mandiri di Desa

Special Plan Tumpukan Sampah Berserakan di Jalanan Cirebon, Pemkab Tuntaskan Pengelolaan Mandiri di Desa

Special Plan – Dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan, Pemerintah Kabupaten Cirebon meluncurkan Special Plan yang berfokus pada pengelolaan sampah secara mandiri di tingkat desa. Pendekatan ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada metode tradisional “angkut-buang” yang selama ini dipakai. Dengan Special Plan, daerah ini berupaya menangani volume sampah harian yang mencapai 1.261 ton, di mana sebagian besar masih berserakan di jalanan dan tidak dikelola secara efektif. Strategi ini juga memberikan wewenang lebih besar kepada masyarakat desa untuk mengambil peran aktif dalam penanganan sampah, sekaligus memastikan bahwa limbah diolah secara bertanggung jawab.

Volume Sampah Masih Tinggi

Menurut data terbaru, dari total sampah 1.261 ton per hari, hanya sekitar 389 ton yang berhasil diangkut dan dikelola saat ini. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono, mengungkapkan bahwa sisa sampah yang belum diolah mencapai 872 ton, yang mengakibatkan tumpukan sampah menggenang di berbagai titik kota. “Kondisi ini jelas menunjukkan kebutuhan untuk melakukan perubahan struktural, tidak hanya sekadar memperbanyak armada truk sampah,” jelas Dede beberapa hari lalu. Dalam Special Plan, pengelolaan sampah tidak hanya mengandalkan kekuatan pemerintah, tetapi juga melibatkan komunitas setempat untuk meraih solusi jangka panjang.

Transformasi TPA ke TPST

Special Plan menargetkan perubahan signifikan dalam sistem pengelolaan sampah dengan mengubah Tempat Pengelolaan Sampah (TPA) menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Konsep TPST ini dirancang untuk memisahkan limbah organik dan anorganik, serta mengolah sampah menjadi produk bernilai seperti kompos atau bahan bakar alternatif. Dede Sudiono menegaskan bahwa langkah ini bukan hanya untuk mengurangi volume sampah, tetapi juga memperkuat konsep keberlanjutan lingkungan. “Dengan TPST, kita tidak hanya mengurangi jumlah sampah yang dibuang, tetapi juga memberdayakan desa dalam menciptakan ekonomi sirkular,” ujarnya.

“Pengelolaan sampah yang mandiri adalah kunci untuk mengatasi masalah ini secara permanen,” kata Dede, yang menambahkan bahwa TPST akan menjadi pusat pengolahan sampah berbasis teknologi dan partisipasi masyarakat.

Langkah Konkret dalam Implementasi Special Plan

Pemkab Cirebon telah mengambil beberapa langkah konkret dalam menerapkan Special Plan. Salah satunya adalah pengadaan alat pengumpul sampah di setiap dusun, yang dikelola oleh RT (Rukun Tetangga) setempat. Selain itu, pemerintah menggandeng lembaga lokal dan organisasi nirlaba untuk memberikan pelatihan pengelolaan sampah kepada warga. “Kami telah mengalokasikan dana sebesar 5 miliar rupiah untuk mendukung program ini, termasuk pembangunan TPST di tiga desa pilot,” terang Dede. Program ini juga melibatkan teknologi pemilahan sampah otomatis yang diinstal di fasilitas pengumpulan.

Peningkatan Partisipasi Masyarakat

Dalam Special Plan, masyarakat desa dianggap sebagai elemen utama yang perlu terlibat aktif. Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Cirebon, melalui kepala Dangi, menekankan pentingnya pendekatan partisipatif. “Keterlibatan warga tidak hanya meningkatkan keberhasilan program, tetapi juga memberikan kesadaran akan pentingnya manajemen lingkungan,” imbuh Dangi. Ia menambahkan bahwa kampanye edukasi dan penghargaan bagi desa yang berhasil mengelola sampah menjadi bagian dari Special Plan ini.

Tantangan dan Strategi Penyelesaian

Implementasi Special Plan tidak tanpa tantangan. Salah satu hambatan utama adalah kesadaran warga tentang manfaat pengelolaan sampah mandiri. “Meski sistem TPST sudah dibangun, jika masyarakat tidak memilah sampah di rumah, efektivitasnya akan berkurang,” jelas Dangi. Untuk mengatasi hal ini, Pemkab Cirebon berencana meluncurkan program pengurangan sampah yang berbasis reward system, di mana warga yang aktif memilah sampah akan mendapatkan insentif dari pemerintah. Selain itu, Special Plan juga menyasar perusahaan daerah dan komunitas usaha kecil untuk mengurangi limbah sehari-hari.

Dengan Special Plan ini, Cirebon berharap mampu menciptakan model pengelolaan sampah yang berkelanjutan, di mana setiap desa menjadi unit pengelolaan mandiri. Selain meningkatkan kesehatan lingkungan, program ini juga diharapkan mampu mengurangi biaya operasional kebersihan secara signifikan. Dede Sudiono menargetkan bahwa dalam tiga tahun ke depan, 70% sampah akan dikelola secara mandiri, sementara 30% tersisa akan diolah di TPST. “Kami optimis, Special Plan akan menjadi fondasi baru bagi pengelolaan lingkungan yang lebih baik di Cirebon,” pungkasnya.

Join the discussion