Skip to content
Esgnow

Latest Program: IESR Ingatkan Ancaman Cuaca Ekstrem terhadap Pasokan Listrik Nasional

Patricia Williams - kabarteras.com 3 mins read

Program Terbaru IESR Ingatkan Ancaman Cuaca Ekstrem pada Pasokan Listrik Nasional Latest Program - Program Terbaru dari Institute for Energy and Environmental

Latest Program: IESR Ingatkan Ancaman Cuaca Ekstrem terhadap Pasokan Listrik Nasional

Program Terbaru IESR Ingatkan Ancaman Cuaca Ekstrem pada Pasokan Listrik Nasional

Latest Program – Program Terbaru dari Institute for Energy and Environmental Research (IESR) mengingatkan bahwa Indonesia harus lebih waspada terhadap ancaman cuaca ekstrem yang semakin sering mengganggu stabilitas pasokan listrik nasional. Di tengah kenaikan suhu global dan perubahan iklim, penguatan sistem kelistrikan menjadi prioritas untuk mengurangi risiko gangguan operasional yang bisa menimbulkan pemadaman massal di berbagai wilayah. Langkah strategis seperti modernisasi infrastruktur, peningkatan teknologi, serta diversifikasi sumber energi dianggap sebagai solusi terpadu untuk menghadapi tantangan ini.

Analisis Risiko Cuaca Ekstrem pada Sistem Energi

Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, mengungkapkan bahwa pemadaman listrik di Sumatera menjadi indikator kuat bahwa sistem kelistrikan Indonesia perlu direformasi secara mendalam. Cuaca ekstrem seperti badai, banjir, atau kekeringan bisa mengganggu operasional pembangkit tenaga listrik, proses transmisi, dan distribusi energi. Dengan sistem yang tidak cukup tangguh, gangguan pada satu titik bisa menyebabkan dampak yang meluas ke seluruh jaringan listrik nasional.

“Pemadaman listrik di Sumatera menjadi bukti bahwa sistem kelistrikan Indonesia harus dirancang lebih matang. Cuaca ekstrem dan krisis iklim bisa mempercepat kejadian gangguan, dan Program Terbaru ini menyoroti kebutuhan untuk memperkuat kapasitas adaptasi sistem melalui desain yang lebih canggih,” kata Deon dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).

Dalam Program Terbaru, Deon menekankan bahwa perencanaan jangka panjang harus mencakup kemungkinan peningkatan frekuensi fenomena cuaca ekstrem. Selain itu, perubahan pola konsumsi energi dan peningkatan partisipasi sumber daya terbarukan juga harus dipertimbangkan. Sistem kelistrikan tidak cukup hanya dibangun untuk kondisi normal, tetapi harus siap menghadapi variasi operasional yang semakin kompleks, terutama di wilayah dengan iklim tropis yang rentan terhadap cuaca ekstrem.

Efek El Nino terhadap Ketenagalistrikan

Program Terbaru IESR juga menyoroti dampak El Nino terhadap sektor ketenagalistrikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa El Nino akan memasuki fase kuat dan mencapai puncaknya pada September hingga Oktober 2026. Fenomena ini berpotensi mengurangi debit air di waduk-waduk yang menjadi sumber energi listrik terbaik (PLTA), seperti yang terjadi pada tahun 2015 dan 2023.

Deon mengusulkan pemerintah untuk mengintegrasikan berbagai skenario risiko ke dalam rencana pengembangan jangka panjang. Skenario ini mencakup kemungkinan penurunan produksi PLTA, gangguan pada pembangkit tenaga listrik, serta lonjakan permintaan energi yang terjadi secara bersamaan. Dengan menggabungkan teknologi seperti smart grid, baterai, dan layanan penunjang sistem, penguatan infrastruktur bisa dilakukan secara lebih efektif untuk menjamin keandalan pasokan listrik.

“Indonesia perlu memaksimalkan pembangkit energi terbarukan yang terdistribusi merata, termasuk baterai kendaraan listrik, serta fleksibilitas sistem agar mampu merespons kondisi operasional yang dinamis,” ujar Deon. Ia menegaskan bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim harus menjadi bagian integral dari transformasi energi nasional, dan Program Terbaru ini menjadi kerangka kerja untuk mengarahkan upaya-upaya tersebut.

Evaluasi Sistem Kelistrikan Dibutuhkan

Di sisi lain, organisasi masyarakat sipil di Kalimantan mengingatkan bahwa evaluasi sistem kelistrikan setelah terjadi pemadaman bergilir di beberapa daerah harus menjadi prioritas. Mereka menilai bahwa data penyebab gangguan perlu diungkapkan secara transparan untuk memperbaiki keandalan pasokan listrik, terutama di wilayah penghasil energi.

“Kami mendesak pengungkapan data oleh instansi berwenang agar penyebab gangguan krisis kelistrikan dapat diketahui secara jelas. Evaluasi independen terhadap pembangkitan, transmisi, distribusi, serta manajemen sektor ketenagalistrikan diperlukan, dan hasilnya harus diakses publik sebagai bentuk akuntabilitas negara,” kata Direktur WALHI Kalimantan Tengah, Janang Firman.

Menurut Janang, pemadaman di Kalimantan juga terkait dengan kelemahan jaringan listrik yang tidak cukup siap menghadapi kondisi ekstrem. Dalam Program Terbaru, IESR menyarankan perbaikan infrastruktur, diversifikasi sumber energi, serta pengembangan energi terbarukan sebagai langkah untuk meningkatkan ketahanan sistem. Dengan menggabungkan sumber daya seperti energi surya, angin, dan biomassa, keandalan pasokan listrik bisa ditingkatkan secara signifikan.

Join the discussion