Key Issue: OJK Sebut Risiko Siber dan AI Jadi Tantangan Utama Tata Kelola Perusahaan
Menjadi Key Issue Utama dalam Tata Kelola Perusahaan Key Issue dalam tata kelola perusahaan di era digital saat ini semakin mencolok dengan adanya ancaman
OJK: Risiko Siber dan AI Menjadi Key Issue Utama dalam Tata Kelola Perusahaan
Key Issue dalam tata kelola perusahaan di era digital saat ini semakin mencolok dengan adanya ancaman dari risiko siber dan kecerdasan buatan (AI). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa kedua faktor tersebut tidak hanya mengubah paradigma bisnis, tetapi juga menjadi tantangan besar dalam menjaga kestabilan sistem keuangan dan kepercayaan investor. Untuk menghadapi dinamika ini, OJK menekankan perlunya penguatan sistem manajemen risiko yang lebih komprehensif, termasuk integrasi teknologi keamanan dan kecerdasan buatan dalam proses pengambilan keputusan.
Pengembangan GRC Sebagai Solusi
OJK mengajak perusahaan-perusahaan di sektor jasa keuangan untuk lebih mengakui Key Issue risiko siber dan AI sebagai bagian integral dari tata kelola, risiko, dan kepatuhan (GRC). Ketua Dewan Audit OJK, Sophia Wattimena, menegaskan bahwa risiko cyber sering kali bergerak cepat dan berpotensi merusak kepercayaan publik secara signifikan. Berdasarkan survei terhadap praktisi GRC, sektor jasa keuangan menghadapi ancaman transaksi anomali yang meningkat, terutama akibat penggunaan algoritma AI yang tidak sepenuhnya diawasi.
“Survei singkat menunjukkan bahwa risiko siber dan AI adalah Key Issue utama dalam sistem tata kelola modern. Dua risiko ini bisa menyebabkan kerugian finansial yang besar dan mengganggu kepercayaan pasar,” kata Sophia Wattimena dalam Risk Governance Summit 2026, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Sophia menjelaskan bahwa kecerdasan buatan, meski berpotensi meningkatkan efisiensi operasional, juga membawa risiko seperti bias algoritma atau penyalahgunaan data pribadi. “Key Issue ini memerlukan pendekatan proaktif, termasuk pelatihan karyawan dan penerapan standar keamanan data yang lebih ketat,” tambahnya. Selain itu, perusahaan harus bersiap menghadapi skenario terburuk seperti serangan siber skala besar atau kegagalan sistem AI dalam mengambil keputusan kritis.
Transformasi Digital dan Eksposur Risiko
Dalam transformasi digital yang pesat, Key Issue risiko siber dan AI semakin terasa. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan bahwa transaksi anomali di sektor jasa keuangan mencapai tingkat yang signifikan, menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pengamanan. “Key Issue ini tidak hanya mengancam data keuangan, tetapi juga kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kinerja yang optimal,” jelas Sophia. Untuk itu, OJK menyarankan perusahaan menerapkan tata kelola yang berbasis data, dengan memanfaatkan AI sebagai alat untuk mengidentifikasi risiko secara real-time.
“Key Issue yang diangkat OJK mengingatkan bahwa perusahaan harus menjadi lebih adaptif dalam menghadapi risiko yang berubah cepat. Dengan menerapkan GRC yang lebih baik, kita bisa menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan stabil,” tegasnya.
Sophia juga menyoroti pentingnya kerja sama lintas sektor dalam mengatasi Key Issue ini. “Dukungan dari regulator, akademisi, dan pelaku bisnis sangat dibutuhkan untuk memastikan kebijakan yang mendorong penggunaan AI secara etis dan aman,” tambahnya. Hal ini mencakup standarisasi penggunaan teknologi, pelatihan khusus bagi manajemen, serta pengawasan yang terintegrasi.
Stabilitas Ekonomi dan Key Issue Global
Dalam sesi diskusi, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan, menegaskan bahwa Key Issue risiko siber dan AI adalah bagian dari kecenderungan global. “Key Issue ini mencerminkan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi ekonomi saat ini, baik dari dalam maupun luar negeri,” kata Ferry. Perekonomian Indonesia, meski cukup stabil, tetap rentan terhadap gangguan global yang bisa mempercepat perubahan kondisi pasar.
“Dengan penguatan tata kelola, kita bisa menghadapi Key Issue seperti risiko siber dan AI yang mengancam pertumbuhan ekonomi. Dukungan dari semua pihak diperlukan agar transformasi digital berjalan lancar,” tambah Ferry.
Ferry menjelaskan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5 persen, menurut IMF, dan 5,2 persen, menurut ADB, tetap menjadi target yang mungkin terganggu jika risiko keamanan digital tidak dikelola dengan baik. “Key Issue ini menunjukkan bahwa tata kelola tidak hanya tentang kepatuhan, tetapi juga kemampuan adaptasi terhadap teknologi yang terus berkembang,” katanya. Pemerintah dan OJK berkomitmen untuk memperkuat sistem tata kelola sebagai fondasi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
Pengaruh Key Issue pada Bisnis
Pengaruh Key Issue risiko siber dan AI terhadap bisnis tidak terlepas dari kebutuhan adaptasi. Dalam dunia usaha, perusahaan harus mengubah pola kerja, meningkatkan kapasitas pengawasan, dan memastikan bahwa penggunaan AI tidak merugikan kepentingan pemangku kebijakan. “Key Issue ini menuntut perusahaan untuk merancang strategi jangka panjang yang memadukan teknologi dengan prinsip tata kelola yang transparan,” jelas Ferry. Hal ini mencakup penggunaan AI untuk prediksi risiko, analisis data, dan pengambilan keputusan yang lebih akurat.
“Key Issue yang diangkat OJK mengingatkan bahwa kita harus menyadari bahwa teknologi tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga tantangan besar. Oleh karena itu, tata kelola perusahaan harus menjadi prioritas dalam transformasi digital,” tutur Ferry.
OJK juga menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi hijau dan digital memerlukan sistem tata kelola yang modern, termasuk penyesuaian kebijakan dan regulasi yang memadukan elemen siber dan AI. “Key Issue ini akan menjadi fokus utama dalam beberapa tahun mendatang, terutama karena kecepatan perubahan teknologi yang semakin meningkat,” ujarnya. Dengan demikian, perusahaan harus terus meningkatkan kemampuan dalam mengelola risiko yang berbasis teknologi.
Langkah Nyata untuk Mencegah Ancaman
OJK berkomitmen untuk mendorong langkah nyata dalam mencegah ancaman yang dianggap sebagai Key Issue utama. Salah satu upaya yang dijalankan adalah pelatihan penguasaan teknologi dan tata kelola yang berkelanjutan bagi para pengelola perusahaan. “Key Issue ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya bergantung pada profit, tetapi juga pada keterbukaan dan kepercayaan yang terjaga,” kata Sophia. Di samping itu, OJK juga mengajak industri untuk mengadopsi standar internasional dalam mengelola risiko siber dan AI.
“Dengan Key Issue ini, OJK berharap muncul inisiatif baru untuk memperkuat sistem tata kelola, sehingga ekonomi Indonesia bisa bertahan dalam era digital yang semakin intensif,” ujarnya.
OJK menyatakan bahwa penyelenggaraan Risk Governance Summit 2026 menjadi wadah untuk menyatukan pemikiran tentang Key Issue risiko siber dan AI. Forum ini menghadirkan berbagai studi kasus dan solusi terkini, termasuk penggunaan AI dalam deteksi kecurangan dan manajemen risiko. “Key Issue yang diangkat OJK tidak hanya tentang ancaman, tetapi juga peluang untuk mengubah cara kita mengelola bisnis,” pungkasnya. Dengan kolaborasi yang baik, tantangan ini bisa diubah menjadi pendorong pertumbuhan yang lebih baik.
