Skip to content
Esgnow

Pekanbaru hingga Surabaya Hadapi Ancaman Panas Lembap Ekstrem Akibat Krisis Iklim

Emily Anderson - kabarteras.com 2 mins read

Pekanbaru hingga Surabaya Menghadapi Risiko Panas Lembap Akibat Perubahan Iklim Pekanbaru hingga Surabaya Hadapi Ancaman Panas - Menurut laporan terbaru

Pekanbaru hingga Surabaya Hadapi Ancaman Panas Lembap Ekstrem Akibat Krisis Iklim

Pekanbaru hingga Surabaya Menghadapi Risiko Panas Lembap Akibat Perubahan Iklim

Pekanbaru hingga Surabaya Hadapi Ancaman Panas – Menurut laporan terbaru Climate Central berjudul “Global Analysis: Dangerous Humid Heat Rising Due to Climate Change”, sejumlah kota besar Indonesia berada di posisi teratas dalam daftar wilayah dengan jumlah hari panas lembap ekstrem terbesar di dunia. Data ini mengungkap tren peningkatan cuaca ekstrem yang semakin mengkhawatirkan.

Di antara 10 kota yang terdaftar, tiga di Indonesia masuk dalam sepuluh besar. Pekanbaru mencatat 353 hari, diikuti Medan dengan 342 hari, dan Surabaya sebanyak 313 hari. Kota-kota seperti Jakarta, Tangerang Selatan, serta Tangerang juga mengalami 290 hari kondisi serupa selama 2016-2025.

Makassar menjadi penantang terdekat dengan 229 hari akibat perubahan iklim dari total 287 hari panas lembap ekstrem. Dalam kota-kota besar, sekitar 72 persen dari hari ekstrem disebabkan oleh faktor lingkungan global.

Perubahan Iklim Memicu Kondisi Cuaca Ekstrem

Climate Central menjelaskan bahwa daerah tropis mengalami kenaikan signifikan dalam frekuensi hari panas lembap ekstrem. Peningkatan suhu bumi akibat emisi gas rumah kaca menjadi penyebab utama perubahan ini.

“Kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa risiko panas ekstrem sudah nyata dan sangat berpotensi mengancam keselamatan jiwa, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan. Di kota-kota besar seperti Jakarta, ancaman ini semakin besar karena masyarakat juga terpapar polusi udara,” ujar Bondan.

Manager Outreach dan Advokasi CERAH, Bondan Andriyanu, menekankan bahwa ancaman ini bukan hanya dari suhu tinggi, tapi juga dipengaruhi oleh polusi yang masih menghiasi lingkungan perkotaan.

Menurut Bondan, pengurangan emisi dari penggunaan bahan bakar fosil perlu mendapat perhatian serius. Langkah ini dianggap penting untuk mengurangi laju perubahan iklim serta melindungi kesehatan warga kota.

Climate Central mendefinisikan hari panas lembap berbahaya sebagai saat suhu bola basah (wet-bulb temperature) mencapai minimal 25°C. Pada kondisi ini, tubuh kesulitan mendinginkan diri melalui penguapan keringat, meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, serta gangguan pada sistem jantung dan pernapasan, hingga kejang panas (heat stroke).

Join the discussion