14 Kabupaten di Jateng Mulai Hadapi Kekeringan
di Jawa Tengah: Tantangan yang Menyusul 14 Kabupaten di Jateng Mulai Hadapi Kekeringan - Puluhan kabupaten di Jawa Tengah (Jateng) saat ini menghadapi
Kondisi Kekeringan di Jawa Tengah: Tantangan yang Menyusul
14 Kabupaten di Jateng Mulai Hadapi Kekeringan – Puluhan kabupaten di Jawa Tengah (Jateng) saat ini menghadapi tantangan kekeringan yang semakin mengkhawatinkan. Tantangan ini menimpa sejumlah wilayah yang mengalami defisit air bersih akibat curah hujan yang terus menurun sejak musim kemarau memasuki fase kritis. Kekeringan bukan hanya mengancam ketersediaan air, tetapi juga mengganggu kegiatan sehari-hari masyarakat, khususnya dalam sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah tersebut.
Penyebaran Kekeringan dan Daerah Terdampak
Kekeringan yang melanda Jawa Tengah telah menjangkau 14 kabupaten, mencakup wilayah seperti Klaten, Banjarnegara, Cilacap, Purbalingga, dan sebagian besar daerah yang berada di bagian tenggara dan selatan provinsi. Klaten, misalnya, terkenal sebagai zona rawan kekeringan karena lokasinya berdekatan dengan pegunungan yang membatasi aliran air. Di sisi lain, daerah seperti Wonosobo dan Kebumen juga mengalami penurunan level air tanah yang signifikan.
Pemerintah setempat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng mengungkapkan bahwa situasi ini terus memburuk seiring bertambahnya hari tanpa hujan. “Sudah ada kalau tidak salah di 14 kabupaten,” kata Bergas Catursasi Penanggungan, Kepala BPBD Jateng, dalam wawancara Jumat (10/7/2026). Ia menjelaskan bahwa daerah-daerah tersebut mengalami penurunan air permukaan yang kritis, sehingga menyebabkan keterbatasan akses air untuk keperluan sehari-hari.
Faktor-Faktor Penyebab Kekeringan di Jateng
Menurut Bergas, kekeringan yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh musim kemarau yang lebih panjang, tetapi juga oleh faktor-faktor alam dan manusia. Kondisi geografis Jawa Tengah, yang mayoritas berupa dataran tinggi dan lembah, membuat aliran air tidak merata. Wilayah dengan kemiringan lereng curam, seperti Klaten, lebih rentan mengalami pengeringan tanah karena air hujan cepat mengalir ke bawah tanah tanpa menyimpan cukup di permukaan.
Selain itu, kekurangan air juga dipengaruhi oleh aktivitas pertanian yang intensif. Banyak petani mengandalkan air hujan alami untuk menanam tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai. Ketika musim kemarau berlangsung lama, produksi pertanian mengalami penurunan yang memengaruhi pasokan bahan pokok. “Kalau sudah seperti ini, daerah atas agak kesulitan air. Selama ini, musim kemarau selalu menyebabkan kekurangan air bersih,” tambah Bergas, yang menyoroti bahwa kekeringan bisa berlangsung hingga beberapa bulan jika tidak ada langkah mitigasi yang tepat.
Upaya Penanggulangan Kekeringan di Jateng
Dalam upaya mengatasi masalah kekeringan, pemerintah daerah telah melakukan beberapa langkah. Salah satu metode yang digunakan adalah teknik geolistrik, yaitu metode survei geofisika yang digunakan untuk mengidentifikasi lapisan air tanah berdasarkan pengukuran resistivitas di bawah permukaan. Teknik ini membantu pemerintah memahami struktur tanah dan menemukan sumber air yang lebih dalam.
“Ternyata di bawahnya memang tidak ada sumber air yang bisa diambil,” imbuh Bergas, menjelaskan bahwa hasil survei geolistrik menunjukkan bahwa beberapa daerah tidak memiliki cadangan air tanah yang cukup. Hal ini memaksa pemerintah mengambil langkah lebih agresif, seperti mengalokasikan bantuan air bersih melalui truk pengangkut air dan membangun sistem irigasi sementara.
Distribusi bantuan air bersih menjadi salah satu solusi darurat yang diterapkan. Total ketersediaan air yang disiapkan mencapai 129 juta liter, dengan masing-masing kabupaten/kota memiliki persediaan yang cukup untuk keperluan pokok masyarakat. Meski demikian, pemerintah mengakui bahwa penanganan kekeringan memerlukan kebijakan jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada sumber air yang terbatas.
Langkah-langkah seperti penguasaan daerah kering, pengelolaan sumber air tanah, dan penggunaan teknologi penghematan air juga sedang dikembangkan. Selain itu, kerjasama antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota menjadi kunci dalam menangani kekeringan secara efektif. “Kita perlu mengoptimalkan penggunaan air, baik dari aliran hujan maupun dari air permukaan,” ujarnya, menekankan pentingnya koordinasi yang baik dalam mengelola sumber daya air di tengah tantangan alam yang semakin kompleks.
“Kekeringan yang terjadi saat ini adalah tantangan yang tidak bisa dihindari, tetapi bisa diminimalkan dengan penataan yang lebih baik,” tambah Bergas, yang menyoroti bahwa dampak kekeringan akan terus dirasakan hingga musim hujan tiba. Ia berharap kebijakan yang diterapkan dapat menjadi contoh terbaik dalam menghadapi bencana serupa di masa depan.
Dengan menjaga ketersediaan air bersih dan memperkuat sistem irigasi, pemerintah Jateng berupaya mengurangi risiko kekeringan yang berdampak luas pada sektor ekonomi dan sosial. Namun, keberhasilan penanganan ini bergantung pada partisipasi masyarakat dan komitmen yang terus menerus dari semua pihak. “14 Kabupaten di Jateng Mulai Hadapi Kekeringan ini adalah bagian dari perjuangan kita untuk menciptakan ketahanan air,” pungkas Bergas, menegaskan bahwa tantangan kekeringan bukan hanya soal cuaca, tetapi juga tentang kebijakan dan kesadaran dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
